Anatomi Tarif Impor AS Ancam Ekonomi Indonesia: Kurs Dolar Naik hingga Ancaman PHK Massal

21 hours ago 3

TEMPO.CO, Jakarta - Kebijakan tarif impor AS, yang diumumkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu, 2 April 2025, menimbulkan kekhawatiran luas, termasuk di Indonesia. Trump menyatakan akan memberlakukan tarif dasar sebesar 10 persen untuk semua produk impor dari seluruh dunia, dan tarif lebih tinggi terhadap negara-negara yang dinilai memiliki hubungan dagang tidak adil dengan AS, termasuk Indonesia yang dikenai tarif sebesar 32 persen.

Dalam pidatonya di acara Rose Garden di Gedung Putih yang dihadiri sebagian besar anggota kabinetnya, Trump mengatakan bahwa Amerika telah berpuluh-puluh tahun dijarah, dirampok dan diperkosa oleh negara-negara yang dekat dan jauh, baik kawan maupun lawan. "Tapi itu tidak akan terjadi lagi," ia menegaskan.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ancaman PHK Massal dan Penurunan Ekspor

Ekonom senior Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai kebijakan Trump ini tidak hanya oportunis, tetapi juga berisiko tinggi bagi ekonomi Indonesia. Menurutnya, sektor ekspor Indonesia ke AS sangat bergantung pada industri padat karya seperti tekstil, sepatu, elektronik, karet, dan alat listrik. “Mengingat ekspor kita ke AS didominasi oleh produk industri padat karya seperti sepatu, TPT (tekstil dan produk tekstil), produk karet, alat listrik dan elektronik). Tekanan PHK akan semakin kuat.” ujar Wijayanto.

Senada dengan itu, Direktur Program INDEF, Eisha Maghfiruha Rachbini, memaparkan bahwa pangsa ekspor Indonesia ke AS mencapai 10,3 persen secara tahunan, terbesar kedua setelah Cina. Dengan beban tarif sebesar 32 persen, biaya logistik dan distribusi naik, yang otomatis menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar Amerika. Pelaku ekspor komoditas unggulan bakal terkena biaya yang tinggi. “Dampaknya adalah melambatnya produksi dan lapangan pekerjaan,” ujar Eisha.

Dolar Menguat, Daya Beli Amblas

Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi INDEF Andry Satrio Nugroho menyebut tarif impor baru yang dibuat Trump bisa mempengaruhi nasib jutaan tenaga kerja domestik. Pelaku ekspor komoditas unggulan—seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, dan produk pertanian—akan terkena biaya yang tinggi. Padahal, sudah lebih dari 30 pabrik di sektor tekstil dan turunannya yang tutup selama tiga tahun terakhir.

“Jika pemerintah terus diam, kita bukan hanya kehilangan pasar utama, tapi juga akan muncul badai pemutusan hubungan kerja (PHK) lanjutan yang jauh lebih besar,” ujar Andry dalam keterangan tertulis, Kamis, 3 April 2025.

Senada dengan Andry, Dosen Departemen Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menyebut tarif 32 persen dari Trump bakal menurunkan daya saing ekspor secara drastis, terutama di sektor padat karya. Produk-produk seperti tekstil, furnitur, dan alas kaki sangat bergantung pada harga kompetitif di pasar AS.

“Tarif setinggi ini akan menaikkan harga jual, mendorong buyer berpaling ke negara lain, dan memicu risiko PHK massal di dalam negeri,” ujarnya.

Apa yang Dikhawatirkan Dunia?

Kekhawatiran terhadap kebijakan tarif impor anyar ini tak hanya datang dari Indonesia. Pakar ekonomi internasional seperti Seijiro Takeshita dari Universitas Shizuoka, Jepang, menyamakan dampak global dari kebijakan tarif ini seperti "tsunami setelah gempa bumi". Ia memperingatkan potensi terjadinya stagflasi global—kombinasi antara inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi rendah.

"Bagi Jepang, kami memiliki 20 persen ekspor ke AS, namun yang benar-benar kami khawatirkan adalah dampak yang sedang berlangsung - menurut saya seperti tsunami - setelah gempa bumi ini. Dengan kata lain, implikasi global dari hal ini," kata Takeshita kepada Al Jazeera.

Langkah Trump juga mengingatkan kembali pada Undang-Undang Tarif Smoot-Hawley tahun 1930, yang memicu depresi ekonomi global saat itu karena aksi balasan dari negara-negara mitra dagang.

Ida Rosdalina, Ilona Estherina, Ervana Trikarinaputri turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan editor: Puluhan Negara Dikenai Tarif Trump yang Tinggi Kecuali 4 Negara Ini, Ada Apa?

Read Entire Article
Parenting |