Hari Kesehatan Dunia, Kemenkes Sorot Pentingnya Kesehatan Mental Ibu dan Anak

16 hours ago 1

TEMPO.CO, Jakarta - Hari Kesehatan Sedunia diperingati setiap tanggal 7 April dan pada tahun ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa langkah awal yang sehat tidak hanya ditentukan oleh aspek fisik, tetapi juga oleh kesehatan jiwa.

Dengan tema "Healthy Beginnings, Hopeful Futures"/"Awal yang Sehat, Masa Depan Penuh Harapan", WHO mendorong seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, 
tenaga kesehatan, dan masyarakat—untuk memperkuat layanan kesehatan perinatal secara holistik. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi menyebutkan di balik upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi, perhatian mendalam terhadap kesehatan jiwa selama kehamilan, masa nifas, dan awal kehidupan bayi memegang peranan penting dalam menciptakan pondasi yang kokoh untuk generasi masa depan.

Menurut dia, WHO memilih tema di atas dengan latar belakang yakni tingkat kematian yang tinggi. Setiap tahun, kata dia, sekitar 300 ribu perempuan meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan, sementara lebih dari 2 juta bayi meninggal dalam bulan pertama kehidupan. Alasan lainnya yakni kesenjangan akses kesehatan, di mana sebagian besar kematian terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan daerah yang terkena konflik atau krisis.

Latar belakang berikutnya, kata Inran, yakni pentingnya investasi kesehatan. Kampanye ini mendorong investasi dalam layanan kesehatan berkualitas, seperti perawatan obstetri darurat dan dukungan kesehatan mental bagi ibu. "Tema ini juga menekankan pentingnya mendukung hak 
perempuan untuk mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas dan bebas dari diskriminasi," ucap Imran kepada Tempo, Jumat, 4 Maret 2025.

Melalui kampanye ini, kata Inran, WHO mengajak pemerintah, komunitas kesehatan, dan masyarakat global untuk mengambil tindakan nyata demi memastikan kehamilan yang aman dan masa depan yang lebih sehat bagi ibu dan bayi. 

Kesehatan Jiwa Selama Kehamilan

Menurut dia, kualitas kesehatan jiwa ibu selama kehamilan berpengaruh besar tidak hanya pada kondisi psikologis sang ibu, tetapi juga terhadap perkembangan janin dan terjalinnya ikatan emosional setelah kelahiran. 

Secara global, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10–15 persen perempuan mengalami gangguan mental selama kehamilan, dengan angka yang cenderung lebih tinggi pada populasi tertentu dan di negara-negara dengan sumber daya terbatas.

Di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah (LMIC), misalnya, tingkat gangguan mental non-psikotik pada ibu hamil dilaporkan mencapai rata-rata 15,6 persen dalam beberapa studi literatur. Sementara itu, di Indonesia data Riset Kesehatan Dasar (2018)  mencatat prevalensi gangguan mental di kalangan ibu hamil sekitar 12,6 persen, yang menekankan kebutuhan akan dukungan psikososial dan intervensi dini agar keseimbangan emosional terjaga.

Kesehatan Jiwa di Masa Nifas (Postpartum)

Menurut Imran, masa nifas atau postpartum merupakan periode transisi penuh dinamika—baik secara hormonal maupun sosial—yang membuat ibu rentan terhadap munculnya gangguan kesehatan jiwa.

Secara global, kata dia, diperkirakan sekitar 13 persen perempuan mengalami gangguan kesehatan mental setelah melahirkan, dengan variasi rentang prevalensi yang dilaporkan antara 4,9 persen hingga 50 persen pada studi tertentu.

Di Indonesia, survei pada ibu nifas mengindikasikan bahwa prevalensi gangguan mental mencapai 10,1 persen, serta varian depresi pasca persalinan yang berkisar 4,0 persen hingga 5,7 persen tergantung pada lokasi (urban versus rural).

"Faktor risiko seperti riwayat depresi, komplikasi kehamilan, dan kurangnya dukungan sosial semakin menegaskan urgensi peningkatan layanan pendampingan dan edukasi bagi ibu pasca persalinan," kata dia.

Dampak Kesehatan Jiwa pada Perkembangan Bayi

Imran menyebutkan kesehatan jiwa ibu selama masa perinatal memiliki implikasi langsung terhadap perkembangan bayi. Menurut dia, berbagai penelitian global menegaskan pentingnya kesejahteraan psikologis ibu dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang anak.

Ia mengatakan gangguan kesehatan mental yang tidak tertangani—seperti depresi atau kecemasan—dapat mengganggu pola pengasuhan, sehingga berdampak pada perkembangan kognitif, status gizi, dan kesejahteraan sosial-emosional bayi.

"Dengan intervensi dini yang meliputi dukungan psikologis dan skrining teratur, banyak intervensi telah berhasil mencegah dampak negatif seperti kelahiran prematur, baby blues, dan gangguan pertumbuhan anak," kata dia.

Menurut Imran, kesehatan jiwa ibu hamil memiliki dampak jauh ke depan pada perkembangan fisik dan kognitif bayi. Ia mengatakan kondisi mental seperti stres, kecemasan, dan depresi selama kehamilan dapat meningkatkan kadar hormon stres (kortisol).

"Kortisol yang tinggi ini dapat mengganggu aliran nutrisi serta mempengaruhi pertumbuhan janin, sehingga berpotensi meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah dan kemudian mengalami stunting," kata dia.

Selain itu, kata Imran, kesehatan jiwa ibu juga memainkan peran penting setelah kelahiran. Menurut dia, depresi atau kecemasan pada ibu dapat mengganggu kualitas interaksi dan bonding, sehingga mengurangi stimulasi yang diperlukan untuk perkembangan otak bayi.

Penurunan stimulasi emosional dan kognitif ini bisa berkontribusi pada keterlambatan perkembangan kognitif dan menurunnya tingkat kecerdasan anak di kemudian hari. Studi-studi menunjukkan bahwa adanya hubungan signifikan antara peningkatan skor depresi pada ibu—yang diukur dengan instrumen seperti CESD-10—dengan peningkatan kejadian stunting pada balita, terutama pada kelompok usia tertentu, sehingga implikasinya juga mulai terlihat pada aspek perkembangan kognitif anak.

Read Entire Article
Parenting |