MANTAN Presiden Joko Widodo mengingatkan situasi global kini berada dalam tekanan berlapis. Ia menyebut tiga kekacauan besar yang datang bersamaan yaitu perubahan iklim, geopolitik, dan disrupsi teknologi, membuat banyak negara di dunia kesulitan menjaga stabilitas.
“Tidak mudah menakhodai negara dalam situasi seperti sekarang,” ujar Jokowi dalam sambutannya saat hadir pada acara Halal Bihalal dan Anniversary ke-1 Youtuber Nusantara serta Konsolidasi Laskar Gibran, yang digelar di Hotel Sunan Solo, Jawa Tengah, Sabtu, 4 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Mantan Wali Kota Solo ini merinci, tantangan perubahan iklim kini dirasakan hampir semua negara, mulai dari banjir, longsor, banjir bandang, hingga kenaikan permukaan air laut. Di saat bersamaan, konflik global belum mereda, mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga Konflik Israel–Palestina, serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
“Semua negara mengalami, semuanya,” katanya.
Jokowi menegaskan dampak krisis lingkungan yang kian meluas. Menurut dia, ketidakpastian ini bahkan tak bisa diperhitungkan oleh negara yang terlibat konflik secara langsung. Sebagai contoh, ia mengungkapkan sempat menghubungi kerabat dan pejabat di Uni Emirat Arab pada saat awal konflik berlangsung.
"Ditanya kapan selesai, jawabannya tidak pasti, tidak jelas. Harga minyak naik sampai berapa juga tidak bisa dipastikan, tidak jelas,” tutur Jokowi.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengaku ikut memantau pergerakan harga minyak dunia hingga Jumat sore, 3 April 2026. Ia menyebut harga minyak dunia telah menembus US$108–112 per barel, hampir dua kali lipat dari posisi sebelumnya di kisaran US$60–70. Jika berlanjut, lonjakan itu akan menekan biaya transportasi, logistik, hingga harga barang, yang pada akhirnya menurunkan daya beli masyarakat.
Di tengah tekanan tersebut, Jokowi menilai pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto masih mampu menahan kenaikan harga bahan bakar. Ia mencontohkan harga Pertalite yang masih berada di kisaran Rp10.000 per liter. Sedangkan Pertamax masih di kisaran Rp12.400–Rp12.500 per liter.
"Ini menurut saya sebuah keputusan yang berani, sebuah keputusan yang dihitung dengan kalkulasi yang detail dan matang sehingga itu menyebabkan beliau memutuskan tidak naik sampai hari ini meskipun dengan resiko APBN yang kita harapkan masih mampu menahan lajunya kenaikan harga minyak yang ada karena rampungnya kapan nggak jelas," ujar dia.
Selain geopolitik dan energi, Jokowi menyoroti ancaman disrupsi teknologi akibat revolusi kecerdasan buatan (AI) dan humanoid robotics atau robot humanoid. Ia memperkirakan puncak dampaknya akan terjadi dalam kurun waktu sekitar 5 hingga 15 tahun ke depan.
“Sekarang saja kita sudah mulai, nanti di puncaknya kita betul-betul sulit membedakan mana yang asli dan mana yang AI,” kata dia.
Menurut Jokowi, kombinasi tiga krisis ini berpotensi memicu efek berantai, tidak hanya pada ekonomi tetapi juga stabilitas sosial-politik jika tidak dikelola dengan baik.
Dalam konteks itu, ia menekankan pentingnya menjaga ruang publik tetap jernih. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak memperkeruh situasi dengan informasi yang belum terverifikasi.
"Saya ingin mengingatkan Jangan mudah menuduh, jangan mudah mencurigai, jangan mudah menyampaikan hal-hal yang belum teruji kebenarannya. Kalau kita masih ragu-ragu jangan terus kita pakai konon, pakai katanya,” ucapnya.
Jokowi turut menyinggung peran kreator digital yang dinilainya memiliki “kekuatan besar” dalam membentuk opini publik. Ia mendorong agar kekuatan tersebut digunakan untuk menghadirkan ketenangan, bukan kegaduhan-kegaduhan. Konten ringan dan menghibur, menurut dia, bisa menjadi penyeimbang di tengah situasi yang tegang.
“Kalau lucu-lucuan tidak apa-apa, supaya tidak bosan. Asal jangan terus-menerus, jangan membuat kegaduhan-kegaduhan,” kata dia.
Di tengah kondisi tersebut, Jokowi menekankan pentingnya persatuan dan kekompakan nasional. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terpancing narasi yang menimbulkan ketakutan, termasuk spekulasi berlebihan tentang masa depan ekonomi. Menurut dia, dengan informasi yang sehat dan suasana yang tenang, Indonesia memiliki peluang untuk melewati tekanan global tersebut.
“Hati-hati dan waspada perlu, tapi takut jangan,” kata Jokowi.


















































