NAMA Faridah Utami tercantum dalam daftar korban meninggal kecelakaan kereta di Bekasi Timur. Ia tewas ketika Kereta Api Argo Bromo Anggrek rute Gambir–Surabaya Pasar Turi menabrak kereta rel listrik tujuan Cikarang pada Senin malam, 27 April 2026. Kecelakaan itu mengakhiri hidup perempuan yang selama ini mendampingi korban kekerasan.
Almarhumah dikenal sebagai sosok yang selama bertahun-tahun menangani korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Faridah merupakan perawat di Pusat Krisis Terpadu (PKT) RSCM, unit layanan yang menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, hingga kekerasan terhadap anak.
PKT berada di lingkungan Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSCM, tepatnya di lantai dua. Karena itu, Faridah kerap disebut sebagai bagian dari staf IGD. Ia bertugas saat korban datang dalam kondisi darurat, termasuk ketika korban masih mengalami ketakutan atau kebingungan.
Seorang mantan koas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang pernah bertugas di bagian forensik RSCM mengingat peran tersebut. Ia tidak mengenal Faridah secara personal, tetapi menyaksikan langsung penanganan korban di PKT. “Beliau jadi orang pertama setelah triase yang menangani pasien-pasien dalam kondisi yang sedang rentan-rentannya dan kalut-kalutnya,” tulisnya dalam akun Threads. Tempo telah diizinkan mengutip utas tersebut.
Di PKT, Faridah menjadi petugas yang mendampingi korban saat pemeriksaan forensik. Ia membantu korban merasa lebih tenang dan memastikan proses berjalan dengan baik, terutama bagi korban yang masih dalam kondisi trauma.
Dokter forensik RSCM, Ade Firmansyah, mengatakan Faridah terlibat langsung dalam penanganan kasus kekerasan. “Almarhumah membantu kami dalam pemeriksaan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak,” kata Ade kepada Tempo, Kamis, 30 April 2026.
Menurut Ade, korban di unit tersebut sering datang dalam kondisi takut sehingga membutuhkan pendekatan khusus. Faridah mendampingi korban sekaligus melakukan wawancara awal untuk menggali informasi penting dalam penanganan kasus. “Almarhumah terlatih melakukan wawancara untuk menggali faktor-faktor risiko pada korban,” ujarnya.
Faridah juga berperan dalam mendukung layanan multidisiplin di PKT yang melibatkan dokter forensik, psikiater, dokter kandungan, hingga dokter anak. “Semua kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang kami tangani pasti dibantu oleh almarhumah,” kata Ade.
Ade mengungkapkan, selama lebih dari satu dekade bekerja di RSCM, Faridah menangani berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ia mendampingi korban pada tahap awal penanganan, saat korban masih dalam kondisi trauma.
Ade menyebut hanya sedikit orang yang memiliki kemampuan melakukan pendampingan pada fase tersebut. Pendampingan pada fase awal membutuhkan empati serta keterampilan komunikasi agar korban dapat menjalani pemeriksaan dengan baik.
Kini, sosok itu telah tiada. Namun, perannya tercatat dalam penanganan berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di RSCM.
Jenazah Faridah dimakamkan di kampung halamannya di Desa Beji, Kopen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Rabu, 29 April 2026. Prosesi pemakaman dihadiri keluarga dan kerabat. Faridah dimakamkan di samping pusara ayahnya.
Pilihan Editor: Mengapa Perlintasan Kereta Api Rawan Kecelakaan?

















































