Mudik Lebaran 2025: Mereka Berebut Kursi Sepur untuk Pulang Kampung

5 days ago 8

TEMPO.CO, Jakarta - Butuh tiga jam bagi Adityar Indra Pangestu untuk mengamankan tiket kereta api sebagai moda transportasi pada mudik Lebaran 2025 ini. Sejak pukul 00.00-03.00, pria 25 tahun itu terus memantau situs KAI Acces, platform digital milik PT Kereta Api Indonesia, agar tak kalah saat berebut karcis sepur ini.

Adityar tak ingin mengulangi pengalaman pahitnya tahun lalu yang gagal memperoleh tiket. Tahun ini, ia bungah karena bisa meraih tiket kereta untuk mudik dari Jakarta ke Magetan, Jawa Timur. “Lebaran 2025 ini memang sulit mendapat tiket kereta api, terutama masalah war,” kata dia saat dihubungi pada Jumat, 28 Maret 2025. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kini Adityar tinggal menunggu keretanya berangkat pada Sabtu, 28 Maret 2025. Menempuh jarak 300 kilometer, ia bersiap mudik dan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. “Ingin bertemu keluarga,” katanya. 

Sulitnya mendapatkan tiket kereta api masih memang bukan masalah baru. Tahun ini, susahnya mendapat tiket masih menjadi kendala utama pemudik. PT Kereta Api Indonesia sebenarnya telah menyiapkan 4.519.000 tiket untuk periode mudik Lebaran 2025. Hingga Rabu, 26 Maret 2025, karcis ini telah terjual 2,9 juta tiket. 

Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta Ixfan Hendriwintoko mengungkapkan bahwa pada H-3 Lebaran atau hari ke-28 Ramadhan ini, jumlah tiket yang telah terjual mencapai lebih dari 722 ribu kursi. "Dari total 1.035.702 tempat duduk yang kami sediakan untuk angkutan Lebaran, sebanyak 722.720 tiket sudah terjual," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat, 28 Maret 2025. 

Dengan angka tersebut, sekitar 70 persen kapasitas angkutan Lebaran di wilayah Daop 1 Jakarta sudah terisi. Untuk Jumat kemarin saja, sebanyak 48.394 tiket telah terjual dengan 87 perjalanan kereta yang berangkat dari Stasiun Gambir dan Pasar Senen.

Sejumlah pemudik yang ditemui Tempo di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, pada Jumat kemarin, juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan tiket kereta api. Bayu, pemudik asal Bogor yang hendak menuju Ngawi, Jawa Timur, mengatakan dirinya harus berburu tiket sejak dini. "Hampir satu malam gak tidur buat dapetin tiket doang. Dapatnya udah subuh," katanya saat ditemui di Stasiun Pasar Senen, Jumat, 28 Maret 2025. Ia menilai sistem penjualan tiket masih menyulitkan masyarakat.

Mutia, pemudik lain yang hendak ke Solo, Jawa Tengah, juga mengalami kesulitan serupa. "Dua hari baru dapat tiket," ujar pekerja asal Bengkulu ini. Menurutnya, harga tiket kereta api juga terus meningkat setiap tahunnya. "Kalau eksekutif nyaman, tapi makin mahal. Kelas ekonomi harus diperbanyak."

Meski demikian, kondisi ini tak menghalangi niat para pemudik untuk pulang kampung. Seorang tutor di Yogyakarta, Kun Anis Jamilia Umma, misalnya. Dia telah ancang-ancang sejak dua bulan lalu untuk mengamankan kursi kereta agar bisa pulang kampung. “Lancar jaya,” kata perempuan 24 tahun itu. 

Bagi Kun Anis, momentum Lebaran bukan peristiwa hari raya biasa. Ia bercerita, selama ini dirinya tak mendapat libur panjang sekaligus bisa pulang kampung. Tahun ini, dirinya pun mengaku mendapat libur yang panjang, sehingga kesempatan ini tak ia biarkan sia-sia. “Takutnya aku tidak punya momen yang sama lagi. Ingin mengunjungi orang tua” kata dia. 

Jumlah Pemudik Tahun Ini Diperkirakan Meningkat

Aplikasi pemesanan tiket perjalanan tiket.com menyampaikan terdapat peningkatan arus mudik yang signifikan dalam periode lebaran 2025. Dia menuturkan antusiasme masyarakat itu tercermin dari meningkatnya pemesanan tiket di tiket.com dibanding tahun sebelumnya.

“Kami mencatat peningkatan pemesanan tiket transportasi sebesar 27 persen, akomodasi naik sebesar 41 persen, dan aktivitas wisata dan atraksi naik sebesar 69 persen bila dibandingkan periode lebaran tahun sebelumnya,” ujar Public Relations Manager tiket.com Sandra Darmosumarto kepada Tempo, Senin, 24 Maret 2025.

Menurut Sandra, peningkatan ini salah satunya di latar belakangi karena adanya penurunan harga tiket pesawat domestik sebesar 13-14 persen. Dia mengatakan karena kebijakan tersebut pemesanan tiket pesawat meningkat sebesar 35,5 persen dibanding lebaran tahun lalu.

Selain itu, Sandra menilai jatuhnya Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri pada momen yang hampir bersamaan turut memicu adanya peningkatan pergerakan. Ditambah dengan pemberian libur sekolah yang lebih lama, kata dia, masyarakat semakin terdorong untuk bepergian. “Ini menunjukkan tren baru bahwa masyarakat tidak hanya mudik ke kampung halaman, tetapi juga memilih untuk berlibur menikmati atraksi dan destinasi wisata,” tuturnya. 

Dia memaparkan, berdasarkan data tiket.com, perjalanan paling ramai jatuh pada 27 Maret hingga 6 April 2025 dengan akomodasi yang paling banyak digunakan transportasi udara. Beberapa kota yang menjadi tujuan utama transportasi ini ialah Jakarta, Bali, Surabaya, Medan, dan Balikpapan. Sementara untuk transportasi kereta api, rute favorit jatuh pada Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memprediksi potensi pergerakan masyarakat selama Lebaran 2025 mencapai 146,48 juta jiwa atau 52 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Angka ini diperoleh dari hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan.

"Hasil survei menunjukkan, puncak arus mudik diprediksi terjadi pada H-3 atau 28 Maret 2025 dengan potensi jumlah pergerakan masyarakat sebanyak 12,1 juta," kata Dudy dalam Rapat Koordinasi Persiapan Penyelenggaraan Angkutan Lebaran 2025 di Kementerian Perhubungan, Jumat, 14 Maret 2025, dikutip dari keterangan tertulis.

ementara itu, puncak arus balik diprediksi terjadi pada H+5 atau 6 April 2025. Dudy mengatakan pergerakan masyarakat di tanggal tersebut diperkirakan mencapai 31,49 juta orang. Dia memaparkan Jawa Barat menjadi kota pergerakan terbanyak dengan jumlah 30,9 juta orang atau mencakup 21,1 persen. Kemudian, ada Jawa Timur dengan potensi 26,4 juta orang atau 18 persen; Jawa Tengah sebanyak 23,3 juta orang atau 15,9 persen; Banten sebanyak 7,9 juta orang atau 5,4 persen; serta Jakarta sebanyak 6,7 juta orang atau 4,6 persen.

Riri Rahayu, Dede Leni, dan Dani Aswara berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Read Entire Article
Parenting |