Nilai Tukar Rupiah Tembus Rp 16.772 per Dolar AS, Apa Sebabnya?

17 hours ago 2

TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Sebelumnya, BI mengungkapkan rupiah ditutup di level Rp 16.575 per dolar AS pada Rabu, 26 Maret 2025. Sementara itu, pada pembukaan Kamis, 27 Maret 2025, nilai rupiah kembali melemah menjadi Rp 16.590 per dolar AS.

Nilai Tukar Rupiah Menyentuh Rp 16.772 per Dolar AS

Terbaru, nilai tukar rupiah melemah sebesar 59 poin atau 0,36 persen terhadap dolar AS pada Kamis, 3 April 2025. Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi di Jakarta, kurs rupiah turun menjadi Rp 16.772 per dolar AS menurut Antara. Sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 16.713 per dolar AS.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan imbal hasil (yield) Surat Berharga negara (SBN) bertenor 10 tahun mengalami penurunan dari yang awalnya 7,13 persen pada Rabu, 26 Maret 2025 menjadi 7,09 persen pada Kamis, 27 Maret 2025.

“Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 104,55, dan yield US Treasury (UST) Note 10 tahun naik ke 4,352 persen,” kata Ramdan dalam keterangan resmi yang dikutip pada Sabtu, 29 Maret 2025.

Danantara dan Tarif Trump jadi Penyebab Rupiah Anjlok

Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi mengatakan jika sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah datang dari domestik dan global. Dari ranah domestik, nilai rupiah dipengaruhi oleh pembentukan Danantara dan ucapan Presiden Prabowo yang mengatakan jika saham adalah judi atau pernyataan bahwa anjloknya IHSG tidak ada hubungannya dengan masyarakat kelas bawah. 

Danantara dan pernyataan Prabowo tersebut membuat investor khawatir dan frustasi sehingga banyak dana asing keluar dari pasar modal Indonesia. 

“Di sisi lain pembentukan Danantara lewat kepengurusan kemarin membuat asing kembali keluar, karena tak mau pasar modal diintervensi pemerintah. Karena mereka melihat pemerintah bakal melakukan intervensi, bahkan Bareskrim membuat statement akan mengawasi pasar modal,” katanya.

Selain itu, ada kekhawatiran ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan internasional, terutama dari ketetapan tarif mobil yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Kebijakan tarif impor tersebut diumumkan secara resmi pada Rabu, 2 April 2025. Kebijakan tarif tersebut disebutnya sebagai timbal balik atau ‘Reciprocal Tarrifs’. Amerika akan mengenakan tarif dasar paling rendah 10 persen untuk semua barang impor yang masuk, sementara beberapa negara dikenakan tarif timbal balik khusus atau resiprokal yang lebih tinggi. 

Indonesia berada di urutan ke delapan di daftar negara-negara yang terkena kenaikan tarif AS, denan besaran 32 persen.

Di samping itu, kehati-hatian Bank Sentral AS atau Federal Reserve dalam pemangkasan suku bunga kemungkinan telah mencegah sentimen bearish atau pesimistis pasar lebih lanjut. Investor juga ikut memantau pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina. Para pejabat AS dan Rusia mengakhiri pembicaraan selama sehari pada 24 Maret 2025 yang difokuskan pada proposal sempit untuk gencatan senjata di laut antara Kyiv dan Moskow.

Dinda Shabrina dan Ilona Estherina berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor: Efek Tarif Impor Trump, Ekonom Sebut Rupiah Berisiko Merosot hingga 17.000 Per Dolar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Read Entire Article
Parenting |