Ramai PHK Massal di Awal Tahun, Kemenperin: Tersedia 24 Ribu Lowongan Kerja Baru

18 hours ago 5

TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 18.610 tenaga kerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Januari-Februari 2025. PHK delapan belas ribuan tenaga kerja itu sejalan dengan penutupan perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex per 1 Maret 2025 lalu.

Di tengah badai PHK di awal tahun ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjanjikan akan ada 24.568 lowongan kerja yang tersedia menyusul pembukaan pabrik baru yang berinvestasi di Indonesia. Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief menyebut dalam data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) tercatat ratusan perusahaan berinvestasi di Indonesia. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Ini berdasarkan laporan dari SIINas, bahwa selama bulan Januari-Februari 2025, ada sekitar 198 perusahaan industri yang melaporkan mereka sedang membangun, dan mereka sedang dalam proses membangun fasilitas produksi dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 24 ribu lebih” kata Febri dalam keterangan resmi di Jakarta, pada Rabu, 2 April 2025.

Febri pun mengakui saat ini sejumlah perusahaan menutup pabrik dan melakukan PHK. Namun, ia optimistis akan ada lebih banyak pabrik baru yang dibuka di Indonesia.

"Industri baru yang sedang membangun fasilitas produksi dan menyerap tenaga kerja baru, jumlahnya tetap jauh lebih besar dari industri yang tutup dan juga menyerap tenaga kerja jauh lebih besar dari jumlah tenaga kerja yang terkena PHK,” ucapnya.

Kemenperin, kata Febri, turut membantu memindahkan pekerja yang di-PHK ke pabrik lain di lokasi terdekat. Selain menjanjikan lowongan kerja baru, Kemenperin akan terus menjaga kondusivitas ekosistem industri terutama dengan meningkatkan permintaan domestik dan ekspor agar utilisasi industri dapat meningkat.

Menurut Febri, industri manufaktur tetap menjadi sektor andalan memacu pertumbuhan ekonomi nasional, karena berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja. “Hingga saat ini, industri manufaktur telah menyerap lebih dari 19 juta pekerja. Namun dengan derasnya arus produk impor barang jadi dengan harga murah masuk ke pasar domestik, tentunya mengancam keberlangsungan industri dalam negeri." 

Dengan distribusi 80 persen produk manufaktur dijual di pasar domestik, kinerja industri itu sangat bergantung pasar di dalam negeri. Oleh karena itu, menurut Febri, manufaktur masih memiliki kinerja baik dan pendapatan dari 19 juta rakyat Indonesia yang bekerja pada sektor tersebut juga ikut naik.

Sebaliknya, ketika pasar domestik dibanjiri produk impor barang jadi, akan mengakibatkan tekanan yang berat pada demand domestik. "Bahkan juga akan mengancam pendapatan rumah tangga untuk 19 juta pekerja tersebut,” kata Febri.

Ervana Trikarinaputri berkontribusi pada artikel ini.

Read Entire Article
Parenting |