Contoh Ucapan Saat Sungkeman pada Momen Lebaran dalam Tradisi Jawa

20 hours ago 3

TEMPO.CO, Jakarta - Lebaran menjadi momen istimewa bagi setiap Muslim untuk saling memaafkan, mempererat tali silaturahmi, serta memperkuat hubungan kekeluargaan. Salah satu tradisi yang masih lestari dalam budaya Jawa saat Lebaran adalah sungkeman.

Mengutip dari laman Nahdlatul Ulama (NU), tradisi sungkeman merupakan bentuk penghormatan dan rasa terima kasih seorang anak kepada orang tua atau anggota keluarga yang lebih tua. Dalam budaya Jawa, sungkeman dilakukan sebagai simbol bakti dan penghargaan terhadap jasa serta bimbingan orang tua sejak lahir hingga dewasa.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Prosesi sungkeman biasanya dilakukan dengan cara anak bersimpuh atau berjongkok di hadapan orang tua atau sesepuh keluarga, lalu mencium tangan mereka sebagai bentuk penghormatan. Di saat bersamaan, anak akan menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah diperbuat, baik yang disengaja maupun tidak.

Ucapan permohonan maaf dalam tradisi sungkeman memiliki banyak variasi yang berbeda di setiap daerah. Berikut adalah tiga contoh ucapan khas yang kerap digunakan dalam tradisi Jawa, sungkeman saat Hari Raya Idul Fitri:

1. Gandheng menika dinten Riyadi, sepindhah ngaturaken Sugeng Riyadi, kaping kalihipun, nyuwun pangapunten sedaya kalepatan ingkang kawula tindakaken linebura ing dinten menika.

Dalam bahasa Jawa, ungkapan "Sugeng Riyadi" memiliki arti lebih dari sekadar "Selamat Hari Raya." Kata "Sugeng" berarti "selamat" atau "bahagia," sedangkan "Riyadi" merujuk pada "hari raya" atau "perayaan." Ungkapan ini mengandung makna mendalam yang mencerminkan rasa syukur, kebahagiaan, serta doa agar hari raya menjadi momen penuh berkah bagi semua.

Jawaban yang umum untuk ucapan ini adalah "Amin" sebagai bentuk doa dan persetujuan atas harapan yang disampaikan. Alternatif lainnya, seseorang dapat menjawab dengan "Matur nuwun ngaturaken sugeng riyadi, sedaya lepat nyuwun pangapunten," yang berarti "Terima kasih atas ucapan selamat hari raya, saya juga memohon maaf atas segala kesalahan yang telah saya perbuat."

2. Kula rumaosi kathah tindakan utawi tembung-tembung ingkang kula aturaken nyakiti panggalih Bapak/Ibu. Kula nyuwun pangapunten inggil sedaya lampahan ingkang kula tindakaken kaliyan sengaja utawi mboten sengaja.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ucapan ini bermakna: "Saya menyadari bahwa banyak tindakan dan kata-kata saya yang mungkin telah menyakiti hati Bapak/Ibu. Oleh karena itu, saya dengan tulus meminta maaf atas semua kesalahan yang telah saya lakukan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja."

3. Ngaturaken sembah pangabekti kawula. Sepinten kalepatan kulo, lampah kulo setindak, paben kulo sakecap ingkang mboten angsal idining sarak, kulo nyuwun pangapunten mugi lineburo ing dinten riyoyo puniko.

Ungkapan ini bermakna: "Saya dengan tulus menghaturkan permohonan maaf atas segala kesalahan saya, baik dalam tindakan maupun ucapan yang mungkin tidak sesuai. Saya berharap di hari raya ini, semua kesalahan saya dapat dimaafkan sepenuhnya."

Dalam budaya Jawa, penggunaan bahasa yang halus dan penuh penghormatan menjadi salah satu ciri khas saat meminta maaf. Ungkapan ini mencerminkan sikap rendah hati dan penghormatan kepada orang tua atau sesepuh keluarga.

Karunia Putri berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Read Entire Article
Parenting |