Dino Patti Djalal: Kita Tidak Perlu Takut Kritik Amerika

3 hours ago 4

PENDIRI Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mengingatkan pemerintah untuk tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri di tengah ketidakpastian global. Pernyataan tersebut disampaikan Dino saat ditemui di sela-sela "Middle Power Conference" di Jakarta, Selasa 14 April 2026.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat ini menyinggung peran Pakistan dalam memediasi pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut Dino, Indonesia perlu mengambil pelajaran dari Pakistan. "Kita perlu stand up to our principle. Membela prinsip. Kalau kita harus mengkritik orang, sebesar apa pun, sekuat apa pun, termasuk Amerika Serikat, itu harus kita lakukan juga," kata Dino.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia mencontohkan Pakistan. Meski merupakan sekutu utama non-NATO Amerika Serikat, tetap berani mengambil posisi tegas dalam isu tertentu. Salah satunya ketika Pakistan mengecam serangan AS dan Israel terhadap Iran yang dinilai melanggar hukum Internasional. "Pakistan bisa memainkan peran yang penting karena mengambil posisi yang berprinsip. Jadi, dia mengecam serangan Amerika terhadap Iran yang memang melanggar hukum internasional. Apalagi membunuh pemimpinnya dengan sengaja," ujarnya.

Menurut Dino, prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif justru memberi ruang bagi pemerintah untuk bersikap independen. Karena itu, ia menilai Indonesia perlu konsisten menjalankan prinsip tersebut, termasuk berani menyampaikan kritik. "Menurut saya, sebagai middle power, kita jangan lupa bahwa bebas aktif itu berarti bebas untuk bersikap, bebas untuk mengkritik, dan kita harus punya nyali untuk membela hal-hal yang penting bagi tatanan dunia yang adil," kata Dino.

Melalui media sosial Instagram, Dino pun menyarankan agar Indonesia memperbaiki praktik diplomasi. Menurut Dino, visibilitas Indonesia di kancah Internasional kian tinggi, namun diplomasi Indonesia saat ini terkesan 'everywhere but nowhere (diplomasi ke semuanya, tapi sebenarnya tidak ke manapun)' dengan praktik yang mencerminkan deviasi dari profesionalisme. 

Dino mencontohkan soal usaha Indonesia yang ingin menjadi mediator antara Amerika dan Iran. Seharusnya, pihak yang ingin menjadi mediator melakukan pendekatan terlebih dahulu kepada pihak yang bertikai secara diam-diam, dalam hal ini Iran dan Amerika. Setelah para pihak setuju, maka rencana mediasi pun diumumkan ke publik.

Namun, yang dilakukan pemerintah Indonesia adalah mengumumkan dulu rencana mediasi kepada publik baru melakukan pendekatan ke Iran dan Amerika dan bertanya 'apakah tertarik?'. "Dan tidak heran, baik Iran maupun Amerika tidak menanggapinya dengan serius," kata Dino.

Pola serupa terulang saat bocoran ide kunjungan Presiden Indonesia dan Perdana Menteri Pakistan ke Teheran, Iran. Pakistan mengharapkan hal ini dirahasiakan terlebih dahulu. "Akibatnya Indonesia dianggap tidak serius dan kenyataannya mediasi yang Indonesia ajukan tidak pernah terjadi. Justru Pakistan yang kemudian melakukan pertemuan pada tingkat Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Turki dan Mesir tanpa Indonesia," kata Dino.

Mantan Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini mengingatkan diplomasi bebas aktif Indonesia harusnya mencerminkan kelihaian, kehati-hatian dan juga kematangan. "Diplomasi yang lebih mementingkan bobot berbanding optik. Benahi praktek diplomasi secara profesional," katanya.

Putri Maharani Kristiana berkontrinisi untuk artikel ini

Pilihan Editor: Dino Patti Djalal : Prabowo Terlalu Semangat Mengejar Trump

Read Entire Article
Parenting |