GABUNGAN Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) memproyeksikan pertumbuhan industri makanan dan minuman atau Mamin sekitar 7 persen hingga akhir tahun. Tercatat pertumbuhan industri pada triwulan I sebesar 7,04 persen.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman, mengatakan target tersebut dipertahankan meski Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menurun pada Juni 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Penilaian itu juga menjadi tantangan bagi pelaku usaha. “Mudah-mudahan ini kita bisa terus pertahankan karena sekarang pemerintah juga mulai memperbaiki,” katanya saat ditemui di Westin Hotel, Jakarta, Kamis, 2 Juli 2026.
Perbaikan yang dimaksud Adhi di antaranya keluhan pelaku usaha terhadap kenaikan harga gas untuk produksi telah diterima. Selain itu, membebaskan bea masuk plastik agar menurunkan biaya produksi.
Namun masih ada masalah yang dihadapi seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), logistik, hingga nilai tukar rupiah yang melemah. GAPMMI akan terus menyuarakan ini kepada pemerintah agar terus mendorong kinerja industri.
“Kami terus berupaya menyampaikan ke pemerintah dan kita berharap pemerintah segera memperbaiki regulasi-regulasinya supaya bisa mendorong industri semakin kuat,” ucap Adhi.
Sebelumnya, lembaga pemeringkat Standard & Poor’s Global (S&P) melaporkan PMI manufaktur Indonesia terkontraksi di level 46,9 pada Juni 2026. Posisi tersebut menurun dibandingkan Mei yang berada di level 50,0. Penurunan pada Juni dipicu oleh turunnya permintaan atas barang manufaktur Indonesia.
Lalu Kementerian Perindustrian mencatat IKI bulan Juni 2026 adalah 52,90, lebih rendah dibandingkan bulan Mei sebesar 53,6. Ini dipengaruhi oleh kenaikan harga energi, nilai tukar rupiah juga membuat harga bahan baku melonjak, serta pemadaman listrik yang menghambat aktivitas produksi.
Adhi S. Lukman menuturkan, harga bahan baku menjadi penting karena regulasi yang mengatur harus lebih kondusif terhadap iklim usaha. “Supaya industri akan lebih leluasa untuk mencari sumber-sumber yang lebih murah,” tuturnya.
Alfi Nefi Pratiwi berkontribusi dalam penulisan artikel ini

















































