GUNUNG Dempo yang terletak di Sumatera Selatan mengalami erupsi pada Selasa, 7 April 2026, sekitar pukul 01.39 WIB. Gunung Dempo terakhir meletus sekitar tujuh bulan yang lalu, tepatnya pada 29 Agustus 2025.
Dalam erupsi teranyar, gunung api setinggi 3.173 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu memuntahkan abu vulkanik setinggi 2.500 meter di atas puncak kawah. Secara visual, kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan condong ke arah timur.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan durasi sekitar 2 menit 56 detik," kata petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dempo, Wiwit Jlian, dalam laporannya untuk Badan Geologi tak lama setelah kejadian.
Menurut laporan itu, hujan abu tipis karena erupsi dinihari itu terjadi di sisi timur berjarak sekitar 4,7 kilometer dari puncak. Adapun kegempaan pada periode 23 Maret hingga 6 April 2026 terjadi sekali gempa frekuensi rendah, dua kali gempa vulkanik dalam, sekali gempa tektonik lokal, 15 kali gempa tektonik jauh, dan getaran tremor menerus dengan amplitudo 0,5-1,0 milimeter.
Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan pengamatan deformasi Gunung Dempo menggunakan metode sistem navigasi satelit global (GNSS) pada periode 23 Maret hingga 6 April 2026, tidak menunjukkan perubahan signifikan. Tapi, pemantauan data tiltmeter dari Stasiun Tugu Rimau sejak 2 April 2026 menunjukkan tren inflasi. "Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan tekanan pada kedalaman dangkal," kata Lana.
Meski begitu tidak ada peningkatan status aktivitas Gunung Dempo. Gunung berbentuk kerucut yang berdiri di wilayah Kabupaten\Kota Lahat, Empat Lawang, dan Kota Pagar Alam itu masih berada pada status Waspada atau Level II. Adapun karakter letusan Gunung Dempo bertipe freatik yang bisa terjadi secara tiba-tiba tanpa didahului gejala vulkanik yang jelas.
Masyarakat, pengunjung, maupun wisatawan diimbau untuk tidak mendekati dan bermalam di dekat pusat aktivitas, yaitu Kawah Marapi, dalam radius satu kilometer, serta arah bukaan kawah sejauh dua kilometer ke sektor utara. Alasannya, berpotensi terlanda lontaran akibat erupsi freatik dan potensi gas-gas vulkanik yang membahayakan.


















































