Iran Tuduh AS Berbohong soal Biaya Perang

3 hours ago 5

MENTERI Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon memanipulasi angka biaya perang AS dalam konflik dengan Iran. Pernyataan itu disampaikan pada Jumat, 1 Mei 2026, di tengah perbedaan antara klaim pejabat AS dan estimasi pihak lain.

Araghchi menyebutkan angka resmi Pentagon jauh lebih rendah dari kenyataan. Dalam unggahan di media sosial X, ia menulis, “Pentagon berbohong. Taruhan Netanyahu secara langsung telah menghabiskan biaya Amerika sebesar US$ 100 miliar sejauh ini, empat kali lipat dari jumlah yang diklaim.”

Araghchi juga menyoroti beban tidak langsung yang ditanggung warga Amerika. “Biaya tidak langsung bagi pembayar pajak AS jauh lebih tinggi. Tagihan bulanan untuk setiap rumah tangga Amerika sebesar US$ 500 dan meningkat cepat. Israel First selalu berarti America Last,” demikian ia menulis.

Selisih Angka dan Beban Militer

Di sisi lain, pejabat Pentagon menyampaikan angka yang lebih rendah. Dalam kesaksian di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Dewan Perwakilan Rakyat pada Rabu, 29 April 2026, Pelaksana Tugas Kepala Keuangan Pentagon Jules Hurst III menyebutkan operasi militer tersebut menelan biaya sekitar US$ 25 miliar. Ia mengatakan sebagian besar pengeluaran digunakan untuk amunisi.

Menurut laporan The Hill, penggunaan amunisi dalam konflik mencakup rudal Tomahawk dan sistem pertahanan Patriot dalam jumlah besar, yang turut menguras cadangan Pentagon.

Namun sejumlah anggota Kongres ragu terhadap estimasi tersebut.

Senator Angus King dari Maine mengatakan ia mendengar perkiraan biaya mencapai sekitar US$ 50 miliar. Menurut dia, angka itu didasarkan pada pengeluaran “sekitar US$ 1 miliar per hari” selama lebih dari 60 hari sejak 28 Februari 2026.

King mempertanyakan dasar perhitungan Pentagon. “Saya akan mencoba menyelidiki dasar estimasi mereka karena US$ 25 miliar jauh di bawah semua perkiraan lain yang saya lihat selama dua bulan terakhir,” ujarnya.

Batas Waktu Perang dan Tekanan Politik

Konflik ini telah memasuki hari ke-60 sejak pemerintahan Presiden Donald Trump memberi tahu Kongres pada 2 Maret 2026. Berdasarkan Undang-Undang War Powers 1973, presiden hanya memiliki waktu 60 hari untuk mengerahkan pasukan tanpa persetujuan Kongres, dengan opsi perpanjangan 30 hari.

Meski demikian, kekhawatiran muncul di kalangan legislator lintas partai.

Upaya meloloskan resolusi pembatasan kewenangan perang telah gagal enam kali. Beberapa senator Partai Republik, termasuk Susan Collins dan Rand Paul, bergabung dengan mayoritas Demokrat dalam mendukung resolusi terbaru yang akhirnya diblokir di Senat.

Ketua DPR Mike Johnson mengatakan Amerika Serikat “tidak sedang berperang” dengan Iran, dengan merujuk pada gencatan senjata dan upaya negosiasi damai.

Sebelumnya, menurut laporan Anadolu, serangan militer AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026 serta memicu serangan balasan Teheran terhadap sekutu AS di Teluk serta penutupan Selat Hormuz. Gencatan senjata diumumkan pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan, diikuti perundingan di Islamabad pada 11-12 April, tapi belum menghasilkan kesepakatan.

Read Entire Article
Parenting |