PENELITI Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Etik Mardliyati membuat salep gel berbasis nano kitosan untuk mempercepat proses penyembuhan luka dengan menjaga kelembaban jaringan kulit. Inovasi ini berbeda dengan metode penyembuhan luka konvensional yang umumnya hanya mampu untuk mengeringkan kulit yang terluka tanpa menjaga kelembaban jaringannya.
Etik mendapatkan ide menciptakan salep gel berbasis nano kitosan dari pengalamannya ketika meriset kitosan pada 2010 lalu. Selama proses ini, ia melihat suatu gagasan untuk mengembangkan produk yang bisa bermanfaat untuk merawat luka dengan basis utamanya nano kitosan. “Secara teori, kitosan sangat bagus, apalagi jika dibuat dalam bentuk nano,” kata Etik melalui keterangan tertulis pada Selasa, 21 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Etik mengatakan salep besutannya ini diformulasikan dari kitosan yang berasal dari limbang cangkang udang. Bahan tersebut diolah melalui proses kimia hingga menjadi kitosan yang memiliki berbagai manfaat, terutama dalam bidang medis, termasuk penyembuhan luka.
Perekayasa Ahli Utama di Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN itu menjelaskan bahwa penyembuhan luka dengan melembabkan jaringan kulit saat proses regenerasi sangatlah penting untuk terhindar dari paparan bakteri. “Kitosan nano ini bekerja dengan melapisi permukaan luka, menjaga kelembaban sekaligus melindungi dari bakteri. Jadi proses penyembuhan bisa lebih cepat dan efektif,” ucap Etik.
Saat ini penelitian terhadap produk itu sudah sampai pada tahap pembuktian di laboratorium. Etik menargetkan dalam beberapa bulan ke depan dapat memperoleh data ilmiah yang lebih spesifik terkait efektivitasnya, yakni dengan pengujian wound scratch, yaitu pengujian pada sel kulit (fibroblas) yang dibiakkan di laboratorium untuk melihat kecepatan penutupan luka.
Dalam pengembangan selanjutnya, Etik berharap inovasi ini dapat meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) yang telah dilengkapi dengan data ilmiah yang kuat, serta menarik minat industri untuk proses hilirisasi. “Penelitian awal sudah kami lakukan tahun lalu, dan tahun ini kami fokus pada penguatan data ilmiahnya,” kata Etik.

















































