Pesan Kardinal Suharyo saat Paskah

7 hours ago 5

USKUP Agung Keuskupan Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo mengatakan Hari Raya Paskah bermakna perjalanan keluar dari kegelapan menuju terang. Kardinal Suharyo berujar, perjalanan umat Kristiani itu memiliki kemiripan dengan sejarah Indonesia.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Paskah itu selalu berarti eksodus, keluar dari perbudakan menuju tanah terjanji. Itu bahasa Kitab Suci. Atau kalau lebih simbolik, keluar dari kegelapan menuju terang,” ucap Suharyo seusai memimpin Misa Pontifikal Hari Raya Paskah di Gereja Katedral Jakarta, Minggu, 5 April 2026, dikutip dari keterangan video Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Jakarta.

Kardinal Suharyo membaca adanya kesamaan eksodus umat Kristiani dari kegelapan menuju terang dengan perjalanan bangsa Indonesia keluar dari masa penjajahan menuju kemerdekaan. Suharyo berujar, tonggak-tonggak sejarah Indonesia yang menunjukkan proses ini terlihat jelas.

Ia mengambil contoh 20 Mei 1908 atau yang kini dikenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional dan menjadi titik terang menuju kemerdekaan. Perjalanan bangsa kemudian berlanjut dengan Sumpah Pemuda pada 1928 yang menegaskan persatuan Tanah Air, bangsa, dan bahasa.

Pada 1945, Proklamasi Kemerdekaan RI menjadi puncak dari perjuangan panjang bangsa, disertai dengan disahkannya Pancasila sebagai dasar negara.

Meski begitu, Kardinal Suharyo mengakui bahwa perjalanan bangsa setelah kemerdekaan tidak selalu berjalan mulus. Ia menyinggung keruntuhan Orde Baru yang melahirkan Reformasi 1998. Salah satu tuntutan pascareformasi ialah pemberantasan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Namun, kata Suharyo, sepanjang 1998 hingga sekarang, upaya pemberantasan KKN pun masih dipertanyakan. “Dan kita semua tahu sekarang bukan hanya KKN yang berkembang, tetapi akibat-akibat dari KKN itu muncul beruntun: kekerasan, kerusakan lingkungan, dan kebohongan publik,” ucap Suharyo.

Bagi Suharyo, yang paling merasakan kesulitan akibat kerusakan-kerusakan itu adalah masyarakat sipil. Penderitaan dan kesusahan warga ini, katanya, mencerminkan bahwa Indonesia semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kardinal Suharyo pun menyampaikan kesulitan masyarakat terlihat dari penurunan daya beli. Dia menceritakan pengalamannya saat mencukur rambut di Pasar Gondangdia, Jakarta Pusat. Suharyo yang melihat kawasan tersebut sepi lantas bertanya ihwal kondisi itu kepada tukang cukur.

“Saya tanya kepada yang memotong rambut saya, ‘Mas, memangnya sepi begini terus?’ Dia jawab, ‘Enggak. Bukannya hanya sepi, Pak, banyak yang tutup di tempat ini’,” tutur Kardinal Suharyo menirukan pembicaraan antara keduanya.

Suharyo mengatakan situasi bangsa Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Sebab, KKN yang masih merajalela ditambah dengan kekerasan, kemiskinan, kerusakan lingkungan hidup, hingga kebohongan, telah merusak tata kehidupan bersama.

Kendati demikian, Suharyo menegaskan tidak mengajak umat untuk meratapi kegelapan. Bagi Kardinal Suharyo, semangat Paskah justru mengajak umat tetap berjuang untuk teguh dalam iman, kokoh dalam harapan, dan tetap menyala dalam kasih, di tengah-tengah situasi yang dihadapi.

Read Entire Article
Parenting |