INFO TEMPO - VinFast, produsen kendaraan listrik (EV) global yang berasal dari Vietnam, mengumumkan rencana restrukturisasi yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat strategi pertumbuhan jangka panjang. Melalui skema ini, VinFast diproyeksikan akan terbebas dari sebagian besar beban utang, sehingga menciptakan fondasi bisnis yang lebih stabil.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Langkah restrukturisasi ini dilakukan melalui akuisisi sebagian aset dari entitas VinFast Vietnam termasuk dua fasilitas manufaktur di Vietnam kepada Future Investment Research and Development JSC dengan partisipasi dari pendiri VinFast, Pham Nhat Vuong senilai VND 13,3 triliun. Kendati demikian, produksi kendaraan tetap berjalan melalui skema alih daya kepada pihak pembeli berdasarkan pesanan dari VinFast.
"Setelah transaksi selesai, entitas manufaktur tersebut akan tetap memproduksi kendaraan berdasarkan pesanan dari VinFast," kata Deputy CEO VinFast Thai Thi Thanh Hai saat diwawancarai oleh media bisnis Vietnam, CafeF.
Seiring transaksi itu, pihak pembeli juga akan mengambil alih sebagian besar kewajiban dan beban keuangan VinFast yang nilainya mencapai sekitar VND 182 triliun per 31 Maret 2026. Dengan begitu, VinFast diproyeksikan hanya akan memiliki sisa kewajiban dalam jumlah yang relatif kecil.
VinFast tetap menjalankan berbagai operasional di luar sektor manufaktur global, seperti riset dan pengembangan produk (R&D), desain kendaraan, operasional bisnis, hingga layanan purnajual. Seluruh sistem penjualan, garansi, layanan purnajual, standar teknis, hingga layanan pelanggan akan tetap berjalan normal dan terus ditingkatkan secara berkelanjutan di bawah pengelolaan VinFast.
"Tidak akan ada dampak apa pun pada kualitas produk. Pabrik perusahaan akan tetap memproduksi kendaraan untuk VinFast sesuai standar yang berlaku saat ini, dan VinFast akan terus menerapkan pengawasan kualitas secara ketat terhadap seluruh produk sebelum sampai ke tangan konsumen," kata Thai Thi Thanh Hai.
Dengan struktur baru ini, Thai Thi Thanh Hai mengatakan kepada investor untuk tidak khawatir. Sebab, perusahaan induk, yakni Vingroup, tidak lagi harus menanggung sekitar 50 persen utang VinFast sesuai porsi kepemilikannya. Melalui restrukturisasi tersebut, VinFast akan menjadi aset bernilai yang diproyeksikan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi grup, seiring target profitabilitas mulai 2027. "Di saat yang sama, VinFast juga dapat mengoptimalkan biaya pendanaan dan beban depresiasi," ujarnya. (*)

















































