NILAI tukar rupiah melemah pada penutupan perdagangan Jumat, 10 April 2026 ke level 17.104 per Dolar Amerika Serikat atau merosot 0,08 persen dibanding hari sebelumnya. Dengan demikian, rupiah secara konsisten telah berada di level 17 ribu per dolar AS selama satu pekan ini.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi memprediksi pada perdagangan pekan depan rupiah bakal bergerak fluktuatif namun kembali melemah. “Dalam sepekan rupiah diperdagangkan di rentang 17.040-17.200 per dolar AS,” ucap Ibrahim lewat keterangan tertulis, Jumat, 10 April 2026.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan mata uang dolar AS. Menurut Ibrahim sentimen global yang memengaruhi pergerakan kurs ini dipicu ketegangan di Timur Tengah. Gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran mulai mereda. Sedangkan Israel memberi sinyal potensi pembukaan diplomatik, dengan mengatakan siap untuk memulai pembicaraan langsung dengan Libanon sesegera mungkin.
Gangguan di Selat Hormuz juga memberi dampak signifikan. Meski ketegangan mereda, lalu lintas kapal yang melalui selat tersebut masih dibatasi oleh pasukan Teheran. Iran dan AS pada Selasa lalu telah sepakat untuk menahan gencatan senjata dua minggu yang dimediasi oleh Pakistan. “Tetapi pertempuran masih terjadi setelah pengumuman tersebut,” ucap Ibrahim.
Sentimen lain yang memengaruhi adalah pasar sekarang menunggu data inflasi konsumen AS yang penting yang akan dirilis pada Jumat. Hasil rilis dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan Bank Sentral Amerika atau Federal Reserve. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) utama AS diprediksi akan meningkat karena lonjakan harga energi di tengah konflik Timur Tengah.
Di dalam negeri, pelemahan mata uang yang berlanjut mulai membuat pengusaha khawatir. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyatakan dampak langsung yang akan dialami dunia usaha adalah inflasi akibat kenaikan biaya produksi atau cost push inflation. Selain itu perusahaan semakin sulit menciptakan kebutuhan arus kas atau cash flow untuk mempertahankan volume produksi yang ada.
Dampak negatif berikutnya muncul dalam bentuk penipisan keuntungan atau profit margin agar beban cost push inflation tak terlalu mengganggu harga pasar. Risiko ini juga bisa dirasakan masyarakat sebagai konsumen maupun pekerja. "Semua memiliki dampak yang jelas kepada pasar tenaga kerja, yakni job freeze, job tightening atau bahkan layoff, tergantung seberapa lama kondisi ini terjadi dan bisa ditahan oleh perusahaan," ucap Shita kepada Tempo dikutip Jumat, 10 April 2026.

















































