AKTOR sekaligus sutradara Baim Wong kembali memperlebar sayapnya di industri perfilman melalui proyek teranyar berjudul Semua akan Baik-baik Saja. Setelah sukses menyutradarai film bergenre horor, kini ia merambah ke genre slice of life. Dalam proyek ini, Baim memegang tanggung jawab besar dengan menduduki kursi sutradara sekaligus produser di bawah bendera Tiger Wong Entertainment.
Pilihan Editor: Siapa Alim, Aktor Down Syndrome Semua Akan Baik-baik Saja
Ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu, 6 Mei 2026, Baim mengungkapkan bahwa mengarahkan sebuah film jauh lebih rumit daripada sekadar mengikuti naskah. Tugas berat seorang sutradara, menurutnya, adalah "menjahit" setiap adegan agar memiliki kesinambungan yang logis dan emosional.
Menghadapi Ego Pemain Besar
Tantangan ini kian besar karena film ini didukung oleh deretan aktor watak kenamaan Indonesia. Reza Rahadian tampil sebagai pemeran utama memerankan sosok Langit, bersanding dengan aktris legendaris Christine Hakim sebagai Ibu Wida. Jajaran pemain besar lainnya turut memperkuat lini peran, mulai dari Raihaanun, Happy Salma, hingga Teuku Rifnu Wikana.
Baim mengakui bahwa mengarahkan aktor hebat jauh lebih sulit dibandingkan bekerja dengan pendatang baru karena adanya "ego" atau standar tinggi yang mereka bawa.
“Pemain hebat itu lebih susah di-direct karena mereka punya ego masing-masing dan berpatokan pada standar kehebatan mereka sendiri,” ujar Baim. Untuk mengatasinya, ia menerapkan pendekatan psikologis agar seluruh kru dan pemain merasa nyaman berkomunikasi di lokasi syuting.
Ruang Inklusivitas
Rahmatullah Nan Alim(kiri) dan Baim Wong (kanan) menghadiri konferensi pers film Semua akan Baik-baik Saja di Epicentrum XXI Rabu, 6 Mei 2026. TEMPO/Andara Angesti
Di tengah jajaran aktor senior, kehadiran Alim, aktor down syndrome, menjadi salah satu poin penting yang membawa pesan tentang penerimaan dan kesetaraan. Baim mengungkapkan bahwa pada proses awal, Alim sempat mengalami kendala teknis dalam berakting.
"Pada proses reading awal, Alim sempat mengalami kesulitan berdialog. Namun, setelah berlatih bersama keluarganya, kemampuan aktingnya berkembang pesat," ungkap Baim.
Kemampuan Alim yang berkembang signifikan akhirnya mendapatkan kepercayaan penuh untuk terlibat dalam produksi. Langkah ini dinilai sebagai bentuk progresif dalam industri film Indonesia yang mulai membuka ruang inklusivitas bagi individu dengan kebutuhan khusus. Keterlibatan Alim menunjukkan bahwa industri perfilman mulai bergerak ke arah yang lebih representatif, tidak hanya dari segi cerita tetapi juga dari sisi pelaku di balik layar.
Modal Pengalaman Puluhan Tahun
Baim mengaku tidak melakukan persiapan teknis yang kaku untuk debut penyutradaraannya di genre ini. Ia lebih mengandalkan insting yang telah terasah selama puluhan tahun berkarier sebagai aktor dan hasil observasi panjang di lokasi syuting.
"Persiapan untuk menjadi sutradara, kalau saya ditanya itu sebenarnya saya enggak ada. Saya hanya pemain tapi lama banget. Saya sudah nempel ilmunya, tinggal saya keluarin saja," tuturnya.
Sebagai produser sekaligus sutradara, Baim memiliki keleluasaan penuh dalam melakukan perubahan mendadak. Ia menyadari bahwa sering kali apa yang tertulis di naskah terasa berbeda saat sudah diperankan oleh para aktor.
"Di buku sama yang akting mereka itu berbeda. Jadi ada penambahan-penambahan adegan itu. Untungnya saya di sini kan produser juga, jadi kalau saya mau, bisa langsung tambahin scene, ganti set, hingga ganti cerita," kata Baim.
Perubahan drastis ini dilakukan semata-mata demi menjaga kualitas dan kedalaman emosi film. Penyesuaian di lapangan selama proses syuting bahkan mencapai angka 40 persen dari rencana awal. Film Semua akan Baik-baik Saja dijadwalkan tayang di bioskop pada Rabu, 13 Mei 2026.
ANDARA ANGESTI
Pilihan Editor: Percobaan Baim Wong Menjadi Sutradara Film

















































