Alasan Badan Geologi Sebut Gempa Palu M6,7 dari Sesar Palolo

7 hours ago 9

HASIL kajian Badan Geologi menunjukkan keterkaitan yang kuat terkait pergerakan Sesar Graben Palolo dengan gempa Magnitudo 6,7 di Sulawesi Tengah, pada Selasa lalu, 16 Juni 2026 pukul. Seperti diketahui gempa yang berpusat di darat itu menyebabkan tiga orang meninggal, lebih dari 100 orang luka-luka, kerusakan bangunan yang luas terutama di Kabupaten Sigi.

Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan kajian itu didasarkan pada distribusi gempa bumi susulan, kondisi geologi permukaan, pola kerusakan, serta hasil analisis geofisika bawah permukaan. “Analisis kami menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di kawasan Graben Palolo menjadi faktor utama yang mengontrol kejadian gempa ini,” katanya daring pada Jumat, 19 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Lokasi episenter atau pusat gempa pada titik koordinat 1,04 derajat Lintang Selatan dan 120,23 derajat Bujur Timur. Jaraknya sekitar 42 kilometer arah tenggara dari Palu, ibu kota Sulawesi Tengah, pada kedalaman 10 kilometer. “Parameter gempa menunjukkan kejadian ini merupakan gempa dangkal dengan energi yang cukup besar hingga menimbulkan dampak signifikan di wilayah sekitar pusat gempa,” ujar Lana.

Rumah yang rusak berat akibat gempa bermagnitudo 6,7 di Desa Kamarora A, Kecamtan Nokilalaki, Sigi, Sulawesi Tengah, 17 Juni 2026. ANTARA/Basri Marzuki

Dia mengakui interpretasi sumber gempa bisa berbeda tergantung metode analisisnya, data, dan perkembangannya terkait gempa susulan yang terus bertambah. Beradasarkan parameter mekanisme sumber gempa yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), serta Pusat Penelitian Geosains Jerman (GFZ ), menurut Lana, semuanya menunjukkan sesar normal.

“Mekanisme tersebut sesuai dengan Sesar Palolo,” kata dia. Sedangkan mekanisme Sesar Sausu yang diungkap sebagai pusat gempa menurut BMKG disebutkannya, "sesar mendatar sehingga tidak berhubungan dengan gempa yang terjadi."  

Lana menambahkan, hingga 18 Juni terjadi lebih dari 150 kali gempa susulan dengan kekuatan Magnitudo antara 2,5 hingga 5,1. Menurut Lana, kejadian gempa bumi utama yang kemudian diikuti oleh banyak gempa susulan menunjukkan kondisi geologi yang rumit dengan jenis litologi beragam, baik rigiditas maupun kekerasannya, serta sebaran perkembangan intensif struktur geologi di wilayah terdampak.

Adapun berdasarkan klasifikasi tanahnya, wilayah terdampak terdiri dari kelas C yaitu tanah yang sangat padat dan batuan lunak, kelas D tanah sedang, dan kelas E tanah lunak. “Karakteristik tanah mempengaruhi tingkat guncangan yang dirasakan,” kata Lana.

Tanah lunak cenderung memperkuat efek getaran sehingga meningkatkan potensi kerusakan bangunan di atasnya. Berdasarkan peta kawasan rawan bencana gempa yang disusun Badan Geologi, sebagian besar wilayah terdampak berada pada tingkat kerawanan menengah hingga tinggi yang antara lain mencakup beberapa daerah di Kabupaten Sigi seperti Dolo, Gumbasa, Marawola, Tanambulava, serta Palu bagian barat, selatan, dan utara.

Selain itu Lana mengatakan gempa berpotensi menimbulkan likuefaksi yang tersebar di empat wilayah. Potensi di Kabupaten Sigi seperti daerah Palolo, Nokilalaki, Danau Lindu, Gumbasa, Tanambulava, Dolo, Sigi Biromaru, Dolo Barat, Dolo Selatan, dan Marawola. Di Kota Palu meliputi daerah Palu bagian selatan, Tatangan, Palu bagian timur, Palu bagian barat, dan Ulujadi.

Kemudian di Kabupaten Parigi Moutong meliputi daerah Parigi Selatan, Torue, Balinggi, dan Sausu, serta di daerah Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso. "Likuefaksi bisa dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu jenis tanah, kandungan air tanah, dan tingkat guncangan. Kami terus melakukan pemantauan dan kajian lapangan untuk mengetahui kondisi sebenarnya pascagempa,” ujar Lana.

Peneliti gempa dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Mudrik Daryono mengatakan sebaran gempa utama dan susulan berada di sekitar Sesar Palolo dan Sesar Sausu. Sejauh ini, menurutnya, satu atau kedua sesar itu sebagai penyebab gempanya. “Dua sesar dengan jarak yang rapat ada kemungkinan di bawah permukaan sekitar kedalaman 25-30 kilometer bersatu dalam bidang yang sama,” katanya sambil menambahkan perlu penelitian lanjutan untuk mengetahui retakan permukaan bumi atau surface rupture.

Read Entire Article
Parenting |