GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo bertemu dengan sejumlah investor di New York dan Boston, Amerika Serikat, saat menjadi pembicara pada Harvard Kennedy School Policy Talk 2026 serta dalam pertemuan dengan Utusan Tetap Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pertemuan itu berlangsung dalam rangkaian International Monetary Fund (IMF) Spring Meeting 2026 pada 13-18 April 2026.
Pada pertemuan tersebut, Perry menyatakan bahwa bauran kebijakan berada pada arah yang tepat, dengan fokus pada stabilitas dan ketahanan eksternal melalui pengelolaan suku bunga, intervensi valuta asing, serta penguatan likuiditas domestik. Ia juga mengatakan bauran kebijakan tersebut didukung oleh komitmen pemerintah dalam menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen Produk Domestik Bruto (PDB).
“Kami akan terus memastikan bauran kebijakan yang konsisten dan responsif untuk menjaga stabilitas serta mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global," ujar Perry di Amerika Serikat, pada Selasa, 14 April 2026, dikutip dari siaran pers.
Dalam rangkaian IMF Spring Meeting 2026, Bank Indonesia juga hadir sebagai pembicara pada diskusi bersama Profesor Harvard Jeffrey A. Frankel dan Harvard Visiting Scholar M. Chatib Basri bertajuk “Stability in an Age of Shocks: Rethinking Macro Policy in a Fragmented World." Diskusi tersebut menyoroti semakin kompleksnya lingkungan global yang ditandai oleh fragmentasi, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta volatilitas pasar keuangan.
Menanggapi hal tersebut, Perry menegaskan bahwa bauran kebijakan yang kredibel, fleksibel, dan terkoordinasi menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global. Pesan tersebut juga disampaikan kepada Utusan Tetap Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Umar Hadi, sebagai bagian dari penguatan komunikasi dan penyelarasan narasi ekonomi Indonesia di tingkat global.
Perry mengklaim bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid, ditopang pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang terkendali, serta sinergi erat kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan. “Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat komunikasi kebijakan dengan investor global guna memastikan persepsi pasar tetap terkelola di tengah dinamika global,” kata dia.


















































