PARIS Saint-Germain (PSG) kembali menunjukkan kelasnya di panggung Eropa. Dengan status sebagai juara bertahan, tim berjuluk Les Parisiens itu melangkah ke semifinal Liga Champions setelah menyingkirkan Liverpool dengan kemenangan meyakinkan.
Bertandang ke Anfield, pada Rabu dinihari, 15 April 2026, PSG menang 2-0 pada leg kedua dan memastikan agregat telak 4-0. Hasil ini membawa klub Prancis itu selangkah lebih dekat untuk mencetak sejarah dengan menjadi tim kedua yang mampu mempertahankan gelar di era modern, menyusul Real Madrid. “Sulit untuk mempertahankan Liga Champions. Kami ada di sini lagi dan kami harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin," ucap Luis Enrique, pelatih PSG, dikutip dari ESPN.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dua gol Ousmane Dembele di babak kedua menjadi pembeda. Pemain yang meraih Ballon d’Or itu mematahkan perlawanan Liverpool dan memastikan PSG melaju ke empat besar, menunggu pemenang antara Bayern Munchen atau Real Madrid.
Gol pertama Dembele lahir pada menit ke-72 lewat tembakan kaki kiri dari luar kotak penalti yang bersarang di sudut bawah gawang. Ia kemudian menggandakan keunggulan pada masa tambahan waktu melalui penyelesaian klinis dari jarak dekat. “Kami sangat senang bisa memenangkan pertandingan ini karena benar-benar sulit, terutama di babak kedua,” ujar Dembele. “Namun kami menemukan cara untuk menang. Kami lolos ke semifinal dan kami sangat gembira.”
Kemenangan ini memperpanjang rekor tak terkalahkan PSG di fase gugur menjadi sembilan pertandingan. Mereka juga menjadi klub Prancis pertama yang mencapai semifinal Liga Champions dalam tiga musim beruntun. Upaya mempertahankan gelar memang bukan perkara mudah. Sejak format Liga Champions diperkenalkan pada 1992, hanya Real Madrid yang mampu melakukannya, bahkan mencatat hat-trick gelar pada 2016 hingga 2018.
Namun PSG kini berada di jalur untuk menyamai capaian langka tersebut. “Ia pemain hebat. Pemain kelas dunia,” kata Luis Enrique tentang Dembele. “Dia tidak selalu harus mencetak gol. Kami tahu kualitasnya. Dia juga bisa bertahan dengan baik bersama tim, terutama di babak kedua, dan itulah esensi sebuah tim.”
PSG juga menunjukkan kedewasaan permainan. Meski sempat membuang peluang di babak pertama, mereka tetap sabar hingga menemukan celah di lini pertahanan The Reds. “Saya sangat senang melihat pendekatan kami dan cara kami menghadapi pertandingan ini,” kata Enrique.
Di sisi lain, Liverpool sempat memberi perlawanan. Klub Merseyside itu punya sejarah kebangkitan dramatis di kompetisi ini dari final 2005 melawan AC Milan hingga semifinal 2019 saat menyingkirkan Barcelona. Harapan serupa sempat muncul di Anfield. Atmosfer stadion yang terkenal panas juga terasa sejak awal. Bus tim PSG disambut flare merah saat tiba. Namun di dalam stadion, dukungan suporter tim tamu tak kalah nyaring, bahkan di beberapa momen justru lebih dominan.
Liverpool mendapat peluang emas untuk membuka skor ketika wasit menunjuk titik penalti setelah pelanggaran Willian Pacho terhadap Alexis Mac Allister. Namun keputusan itu dianulir setelah tinjauan ulang, memupus momentum tuan rumah. Sebelumnya, peluang Virgil van Dijk juga digagalkan aksi heroik Marquinhos yang melakukan blok krusial. “Bagi seorang bek, momen seperti itu lebih baik daripada mencetak gol. Itulah yang paling saya nikmati,” kata Marquinhos. “Saya melihat Van Dijk datang dan refleks menjatuhkan diri ke arah bola. Detail-detail seperti ini yang mengubah pertandingan.”
PSG kini tinggal dua langkah lagi menuju sejarah. Setelah penantian panjang untuk menaklukkan Eropa akhirnya terbayar musim lalu, mereka kini berpeluang mengukuhkan dominasi di Liga Champions.


















































