Candaan Seksis Itu Enggak Lucu, Begini Cara Menghadapinya

3 hours ago 7

CANTIKA.COM, Jakarta - Candaan seksis sama sekali tidak lucu, sepakat? Selain menciptakan lingkungan yang tidak aman, hal ini juga menjadi bagian dari rape culture yang sering kali tidak disadari. Ketika komentar bernuansa seksual tentang tubuh orang lain dibiarkan atau dinormalisasi, hal itu bisa membentuk cara pandang bahwa tubuh dan martabat seseorang sah dijadikan bahan obrolan.

Kabar baiknya, kamu tetap bisa mengambil peran saat melihat hal ini terjadi di sekitarmu. Jika di dalam circle ada yang menjadikan tubuh orang lain sebagai bahan lelucon, penting untuk tidak diam.

Menurut psikolog klinis Kezia Toto, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh saksi untuk merespons sekaligus mencegah terjadinya pelecehan. Pendekatan ini dikenal dengan 5Ds of Bystander Intervention, yaitu Direct, Delegate, Distract, Delay, dan Document.

"Kita dapat secara langsung merespons dan menegur pelaku bahwa candaan tersebut tidak pantas (Direct), misalnya dengan mengatakan, ‘Komentar itu tidak pantas,’ atau ‘Ucapan tersebut merendahkan orang lain,’ atau ‘Tolong berhenti’," jelasnya dalam wawancara tertulis kepada Cantika, 16 April 2026.

Dalam situasi tertentu, kamu juga bisa meminta bantuan pihak lain yang lebih berwenang atau mampu menangani situasi (Delegate).

Jika kondisi terasa berisiko dan belum memungkinkan untuk konfrontasi langsung, kamu bisa mengalihkan perhatian untuk menghentikan situasi yang tidak nyaman (Distract). Contohnya, mengajak korban menjauh dari situasi tersebut.

"Jika tidak sempat merespons saat kejadian, tetap penting untuk mendukung korban setelahnya dan menawarkan bantuan (Delay). Kita juga bisa melakukan dokumentasi (Document) atas kejadian untuk ditindaklanjuti, namun tetap perlu menghargai keinginan pihak yang terdampak," ungkapnya.

Penyebab Munculnya Candaan Seksis

Candaan seksis biasanya enggak muncul tiba-tiba. Di baliknya, ada cara pandang yang memang sudah terbentuk sebelumnya. Cara pandang ini dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, termasuk budaya patriarki yang tanpa sadar terus direproduksi.

Contohnya bisa kita lihat dari stereotip gender yang masih sering muncul, cara media menampilkan perempuan, sampai lingkungan pergaulan yang menganggap candaan seksis sebagai hal yang dinormalisasi.

16 Mahasiswa FH UI Diduga Melakukan Pelecehan

Baru-baru ini, terungkap 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia diduga menjadi pelaku pelecehan secara verbal lewat grup percakapan. Mereka mewajarkan lelucon seksual dalam circle tersebut. Mengutip Tempo, diduga candaan seksis itu dilakukan sejak 2025. Dan, korbannya terdiri dari 20 mahasiswi dan 7 dosen.

Selama proses penanganan kasus, status akademik mereka dibekukan sementara oleh kampus. Bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Fakultas Hukum UI menjanjikan penanganan kasus ini secara transparan, akuntabel, dan mengutamakan pemulihan korban pelecehan.

Pilihan Editor: Dialami Aurelie Moeremans, Ini Dampak Child Grooming bagi Anak Perempuan

SILVY RIANA PUTRI | TEMPO

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Parenting |