Rupiah Melemah Setelah S&P Beri Outlook Negatif Obligasi RI

3 hours ago 7

NILAI tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Jumat melemah 50 poin atau 0,29 persen menjadi Rp 17.189 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.139 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi outlook negatif dari lembaga rating Standard & Poor's Global Ratings (S&P) terhadap peringkat obligasi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Rupiah pada perdagangan hari ini lebih dipengaruhi oleh tekanan domestic terkait outlook negatif dari lembaga rating S&P terhadap peringkat obligasi pemerintah karena tekanan fiskal pemerintah yang besar,” ungkap Rully Nova kepada Antara di Jakarta, Jumat, 17 April 2026.

“Dari eksternal, sebenarnya memberikan sentimen positif, terlihat dari mayoritas mata uang regional yang menguat dan index dollar yang relatif stabil,” ucap Rully.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp17.189 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.142 per dolar AS.

Sebelumnya, dilaporkan bahwa lembaga pemeringkat S&P Global Ratings khawatir terhadap rasio pembayaran utang Indonesia.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa S&P menanyakan secara detail kondisi fiskal Indonesia, termasuk konsistensi menjaga defisit tetap di bawah ambang batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Purbaya menyampaikan ada peluang defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2025 pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) menurun dari proyeksi awal setelah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Kementerian Keuanganmencatat realisasi sementara defisit APBN 2025 sebesar 2,92 persen PDB. Adapun pada hasil akhir audit nanti, Purbaya memproyeksikan defisit menyempit ke level 2,8 persen dari PDB.

Adapun untuk APBN Tahun Anggaran 2026, Menkeu Purbaya menyampaikan upaya Kemenkeu memperbaiki pengumpulan pajak serta kepabeanan dan cukai, salah satunya melalui restrukturisasi organisasi.

Read Entire Article
Parenting |