KETUA Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengklaim tidak ada pembicaraan ihwal penggabungan Partai NasDem dengan Partai Gerindra seperti yang dilaporan Majalah Tempo dalam edisi 12 April 2026.
"Seperti yang disampaikan oleh NasDem bahwa kita tidak pernah ada pembicaraan seperti itu," kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat ini di Gedung DPR, Jakarta, pada Selasa, 21 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dasco mengaku baru mengetahui informasi tersebut. Dia lantas mempertanyakan apa dasar dan dari kabar merger Partai Gerindra dengan Partai NasDem.
"Kita juga eh apa namanya? Begitu dengar juga kita bingung sumbernya dari mana, tapi karena NasDem juga sudah duluan menjelaskan karena subjeknya NasDem, ya kita pikir sudah cukup," ujar dia.
Dalam Majalah Tempo edisi pekan lalu, terungkap bahwa Prabowo mengusulkan kepada Surya Paloh untuk menggabungkan partai NasDem dengan Gerindra. Ide itu muncul setelah keduanya bertemu di kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat pada pertengahan Februari 2026.
Jika ide itu terwujud, gabungan dua partai mengumpulkan hampir 35 juta suara nasional atau 23 persen berdasarkan hasil pemilu 2024. Menurut tiga pejabat teras NasDem, Surya tak menyambut usulan itu karena ingin mempertahankan posisinya dan belum melihat apa manfaat merger untuk NasDem.
Surya Paloh menepis kabar peleburan Partai NasDem dengan Partai Gerindra. Sementara Wakil Ketua Partai NasDem Saan Mustopa mengaku terkejut dengan informasi tersebut. Dia enggan menyebut isu penggabungan kedua partai sebagai merger atau akuisisi, melainkan fusi sebagai istilah resmi.
Saan berpendapat penggabungan dua partai adalah ide yang wajar, apalagi pernah terjadi di tahun 1973 silam. Dibanding saat itu, dia menilai saat ini gagasan merger kedua partai menjadi lebih sulit direalisasikan karena perbedaan filosofi antar partai.
"Misalnya terkait dengan soal konteks ideologi, konteks identitas, eksistensi partai, karena membangun atau mendirikan partai itu, para pendiri partai masing-masing, tentu punya idealisme dan gagasan dalam konteks yang berbeda-beda," tutur dia Kompleks DPR, Jakarta, pada Senin, 13 April 2026.

















































