Diamnya Orang Tua, Bingungnya Anak? Efek Jangka Panjang dari Pertanyaan yang Diabaikan

2 weeks ago 14

Fimela.com, Jakarta Setiap anak lahir dengan rasa ingin tahu yang luar biasa. Mereka mengeksplorasi dunia di sekitarnya melalui berbagai pertanyaan sederhana yang sering muncul tiba-tiba dan berulang kali. “Mengapa langit berwarna biru?”, “Kenapa kita harus tidur?”, atau “Apa itu kematian?” bagi anak-anak, bertanya bukan sekadar mencari tahu, tetapi juga sarana untuk membangun koneksi, mendapatkan kepastian, serta merasa menjadi bagian dari dunia orang dewasa. Sayangnya, tak sedikit dari pertanyaan-pertanyaan ini yang justru diabaikan, dianggap sepele, atau dijawab asal-asalan oleh orang tua yang sibuk maupun kelelahan.

Mungkin terlihat sepele, namun sikap orang tua yang memilih diam atau tak memberikan jawaban yang memadai bisa menimbulkan dampak psikologis bagi anak. Dikutip melalui sumber behappy.ca, ketika rasa ingin tahu mereka tak mendapatkan respons, anak bisa merasa kecewa, bingung, bahkan perlahan mempertanyakan arti penting dari sebuah pertanyaan. Sedikit demi sedikit, ini bisa menumbuhkan keyakinan bahwa menyuarakan pikiran tak ada gunanya, atau bahwa apa yang mereka katakan tak layak didengarkan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempengaruhi kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, serta kualitas hubungan emosional anak dengan lingkungannya.

Artikel ini akan mengajak Anda melihat lebih dekat bagaimana kebiasaan kecil yang tampaknya sepele dari orang tua dapat memberikan dampak besar bagi perkembangan anak. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya soal memberi jawaban tetapi juga kesiapan untuk hadir dan mau mendengarkan.

Rasa ingin tahu melemah

Rasa ingin tahu merupakan dasar penting dalam proses tumbuh kembang intelektual anak. Ketika pertanyaan-pertanyaan mereka sering diabaikan atau dianggap tidak berarti, keinginan alami untuk menjelajahi dan memahami dunia bisa perlahan memudar. Anak yang sebelumnya aktif dan penuh rasa penasaran dapat merasa bahwa keingintahuannya tidak dihargai, lalu memilih untuk diam dan menerima informasi tanpa keinginan untuk menggali lebih jauh. Jika hal ini berlangsung terus-menerus, motivasi belajar dari dalam diri anak bisa menghilang, sehingga perkembangan kognitifnya tidak mencapai potensi terbaik.

Saat pertanyaan anak diabaikan, mereka bukan hanya merasa tidak didengar, tapi juga mulai meragukan nilai dari pemikiran dan perasaannya sendiri. Hal ini secara perlahan dapat mengikis rasa percaya diri, karena anak merasa bahwa apa yang mereka pikirkan tidak layak untuk ditanggapi. Ketika respons dari orang tua minim atau bahkan tidak ada, anak belajar bahwa suaranya tidak penting, sehingga enggan untuk berbicara, bertanya, atau mengekspresikan diri. Dalam jangka panjang, hal ini bisa membuat anak tumbuh dengan keyakinan diri yang lemah dan cenderung pasif dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Terbentuknya pola pikir negatif

Anak yang sering diabaikan saat bertanya berisiko membentuk pola pikir negatif sejak usia dini. Mereka bisa mulai meyakini bahwa bertanya adalah perilaku yang mengganggu, memalukan, atau tidak ada gunanya. Lama-kelamaan, pandangan ini dapat berubah menjadi keyakinan bahwa pendapat dan rasa ingin tahu mereka tidak layak untuk disampaikan. Anak pun cenderung memilih diam dan menahan diri, alih-alih mengekspresikan pikiran atau mencari tahu lebih dalam. Sikap tertutup ini berdampak pada kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru. Pola pikir negatif semacam ini bisa terus terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara anak menghadapi berbagai tantangan dalam lingkungan sosial maupun dunia pendidikan.

Interaksi sederhana seperti menjawab pertanyaan anak merupakan momen berharga dalam membangun ikatan emosional antara orang tua dan anak. Namun, ketika pertanyaan-pertanyaan itu sering diabaikan, hubungan yang seharusnya tumbuh dalam kehangatan bisa berubah menjadi dingin dan menjauh. Anak mungkin mulai merasa diabaikan dan menganggap kehadiran orang tua hanya sebatas fisik, bukan emosional. Seiring waktu, mereka bisa kehilangan keinginan untuk bercerita, bertanya, atau menunjukkan perasaannya karena merasa tidak ada tempat yang aman untuk didengar. Jika pola ini terus berlanjut, akan terbentuk jarak emosional yang makin sulit dijembatani saat anak tumbuh dewasa.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Nazwa Putri Kurniawan

    Author

    Nazwa Putri Kurniawan
  • Vinsensia Dianawanti

    Editor

    Vinsensia Dianawanti
5 Tips agar Anak Disiplin tanpa Diancam./Copyright depositphotos.com/geargodz

FimelaMom5 Tips agar Anak Disiplin tanpa Diancam

Cara baru membangun disiplin anak tanpa ancaman, lewat pendekatan lembut yang menumbuhkan keberanian, rasa aman, dan ketegasan yang hangat.

 freepik

FimelaMomPanduan Persiapan Kehamilan di Usia 30 Tahun

Memasuki usia 30 tahun sering kali menjadi titik balik bagi banyak perempuan dalam merencanakan masa depan, termasuk soal kehamilan.

 kian zhang/Unsplash)

ParentingBijak Menghadapi Kebiasaan Anak Makan Sambil Nonton

Dengan tips praktis, orang tua dapat membantu anak lebih fokus menikmati makanannya, menjaga pola makan sehat, sekaligus mengurangi ketergantungan pada layar.

 pch.vector/freepik)

FimelaMomMenerapkan Stoicism agar Parenting Lebih Tenang dan Bermakna

Dengan prinsip stoicism, orang tua bisa lebih tenang, sabar, dan fokus pada hal yang bisa dikendalikan saat mengasuh anak.

Kedekatan antara saudara kandung diperlukan upaya konsisten dari orang tua untuk menciptakan suasana yang harmonis di rumah. (foto/dok: freepik/jcomp)

FimelaMomAntar Saudara Sering Bertengkar? Ini 10 Cara Membangun Kedekatan Kakak-Adik Tanpa Ada Persaingan

Apabila hubungan kakak-adik sering bertengkar, peran orang tua merupakan hal yang penting untuk menjadi penengahnya. Simak, 10 cara membangun kedekatan antar saudara tanpa ada persaingan.

Read Entire Article
Parenting |