Tips Efektif Mengatasi Anak yang Sering Gelisah

2 weeks ago 26

Fimela.com, Jakarta Melihat anak sering gelisah tentu membuat orang tua merasa khawatir. Banyak orang tua berusaha keras melindungi anak dari hal-hal yang menakutkan atau membuat cemas. Namun tanpa disadari, cara ini justru bisa memperkuat rasa gelisah anak. Alih-alih menghindari, yang terpenting adalah membantu anak belajar menghadapi kecemasannya. Dengan dukungan yang tepat, anak bisa tumbuh lebih percaya diri dan mampu mengelola perasaan gelisahnya.

Melansir laman childmind.org, hal pertama yang perlu dipahami adalah tujuan utama bukanlah menghilangkan rasa gelisah sepenuhnya, melainkan membantu anak mengelolanya. Anak perlu tahu bahwa rasa cemas itu wajar dan bisa dialami siapa saja. Dengan belajar bertahan di tengah rasa cemas, lama-kelamaan perasaan itu akan berkurang dengan sendirinya. Justru kemampuan inilah yang akan membuat anak lebih kuat dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Orang tua juga sebaiknya tidak membiasakan anak menghindar dari hal yang membuatnya takut. Misalnya, jika anak selalu dikeluarkan dari situasi yang menegangkan, ia akan belajar bahwa cara terbaik menghadapi rasa cemas adalah kabur. Dalam jangka panjang, pola ini bisa memperburuk kecemasan. Sebaliknya, dorong anak untuk tetap mencoba, meski dengan langkah kecil, agar ia berani menghadapi rasa takutnya.

Bangun kepercayaan diri anak lewat dukungan yang tepat

Saat mendukung anak, penting juga memberi ekspektasi positif namun tetap realistis. Jangan menjanjikan hal-hal yang belum tentu terjadi. Sebagai gantinya, katakan bahwa ia akan baik-baik saja dan mampu menghadapi berbagai tantangan. Pesan seperti ini membuat anak lebih percaya diri tanpa merasa dipaksa melakukan sesuatu yang di luar kemampuannya.

Menghargai perasaan anak juga tidak kalah penting. Validasi bukan berarti memperkuat ketakutannya, melainkan menunjukkan bahwa kita memahami apa yang ia rasakan. Misalnya, jika anak takut jarum suntik, orang tua bisa berkata, “Ibu tahu kamu takut, itu wajar, dan Ibu akan temani kamu.” Dengan begitu, anak merasa didengar tapi tetap didorong untuk menghadapi rasa takutnya dengan tenang.

Selain itu, cara bertanya orang tua juga berpengaruh. Hindari pertanyaan yang justru menanamkan kecemasan, seperti “Kamu takut ya ujian nanti?” Sebaiknya gunakan pertanyaan terbuka, misalnya, “Gimana perasaanmu menghadapi ujian?” Dengan cara ini, anak bisa lebih jujur mengekspresikan dirinya tanpa merasa sedang diarahkan untuk cemas.

Latih anak menghadapi kecemasan dengan cara yang sehat

Anak juga perlu didorong untuk belajar menoleransi rasa cemas. Orang tua bisa mengapresiasi usahanya, misalnya saat anak berani tampil di depan kelas meski gugup. Beri semangat bahwa semakin sering ia mencoba, rasa cemasnya akan semakin berkurang. Proses ini memang tidak instan, tapi justru melatih anak menghadapi rasa takutnya dengan lebih sehat.

Orang tua juga bisa membantu dengan memperpendek waktu antisipasi. Rasa gelisah biasanya memuncak sebelum sebuah kejadian berlangsung. Misalnya, anak yang takut ke dokter bisa semakin cemas jika diberi tahu berjam-jam sebelumnya. Maka, sebaiknya informasikan secukupnya dan beri pendampingan dengan tenang saat waktunya tiba.

Terakhir, orang tua bisa mengajak anak berpikir tentang cara menghadapi kemungkinan terburuk. Misalnya, jika anak khawatir ditinggal setelah latihan, tanyakan apa yang bisa ia lakukan: “Kalau Ibu belum datang, kamu bisa bilang ke pelatih, lalu pelatih akan menunggu bersamamu.” Rencana sederhana seperti ini membuat anak lebih tenang karena tahu ada solusi. Selain itu, jadilah contoh dalam menghadapi kecemasan. Tunjukkan bagaimana kamu sendiri mengelola rasa khawatir dengan cara yang sehat. 

Penulis: Alyaa Hasna Hunafa

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Parenting |