GUNUNG Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali erupsi pada Rabu, 15 April 2026, sekitar pukul 15.42 WIT atau pukul 13.42 WIB. Gunung Dukono memuntahkan abu vulkanik setinggi 2,5 kilometer dari atas puncak kawah.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono, Hanhan Handayani, mengatakan kepulan abu dengan intensitas tebal mengarah ke sebelah timur laut dan timur. "Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung," kata Hanhan dalam laporannya untuk Badan Geologi tak lama sesudah kejadian.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Rekaman seismogram menunjukkan gempa yang dihasilkan letusan Gunung Dukono beramplitudo maksimum 26 milimeter dengan durasi sekitar 27.76 detik. Sebelum letusan itu, Gunung Dukono sudah erupsi tiga kali sepanjang hari yang sama.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 05.51 WIT dengan tinggi kolom abu teramati mencapai 900 meter di atas puncak. Selanjutnya, letusan kembali terjadi pada pukul 09.57 WIT dan melontarkan abu vulkanik setinggi 700 meter. Pada pukul 11.59 WIT, gunung setinggi 1.335 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu kembali meletus dengan tinggi kolom abu mencapai 700 meter di atas puncak kawah.
Badan Geologi menetapkan status aktivitas Gunung Dukono berada pada Level II atau Waspada. Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria meminta masyarakat sekitar ataupun pendaki tidak beraktivitas seperti melakukan pendakian dan mendekati Kawah Malupang dan Warirang dalam radius empat kilometer.
"Kami merekomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Dukono untuk selalu menyediakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk digunakan pada saat dibutuhkan guna menghindari ancaman bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan," ucapnya.
Gunung Dukono bertipe statovolcano atau berbentuk kerucut dengan kompleks kawah majemuk. Adapun tipe erupsi Gunung Dukono yakni stromboli-volkano yang ditandai dengan letusan eksplosif kecil hingga menengah secara terus menerus seraya disertai muntahan abu vulkanik.
Gunung Dukono masuk ke dalam bagian dari busur vulkanik Halmahera yang mulai menunjukkan aktif erupsi sejak 1933. Aktivitas vulkanik gunung ini dipicu pergerakan Lempeng Laut Maluku. Gunung berapi lainnya yang terbentuk akibat pertemuan tiga lempeng tektonik--Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia--adalah Gunung Tobaru, Ibu, Todoku-ranu, dan Gamkonora.


















































