Gunung Merapi Kini: Tenang Bukan Berarti Baik-baik Saja

5 hours ago 5

BALAI Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi atau BPPTKG Yogyakarta menyatakan bahwa kondisi Gunung Merapi, meski saat ini kelihatan tenang, bukan berarti sedang baik-baik saja. Berdasarkan laporan aktivitas vulkanik periode 26 Juni hingga 2 Juli 2026, gunung api aktif tersebut masih berstatus Siaga atau Level III. 

Selama periode sepekan itu, Merapi memuntahkan empat kali awan panas. Luncuran awan panas itu masih berlanjut pada Jumat, 3 Juli, sebanyak satu kali, lalu hari ini, Sabtu 4 Juli, sebanyak tiga kali dengan jarak terjauh 2.000 meter. "Jadi Gunung Merapi memang seperti tenang, namun bukan berarti sedang baik-baik saja," kata Kepala BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santoso, Sabtu.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Agus menjawab masih banyaknya pertanyaan masyarakat terhadap kondisi terkini gunung api yang berlokasi di perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta itu. Terutama keamanan untuk aktivitas pendakian yang memang telah ditutup sejak November 2020 lalu atau saat statusnya naik menjadi Siaga.

"Aktivitas guguran lava, awan panas, dan gempa vulkanik masih terus terjadi di dalam perut bumi Merapi, bahkan ancaman berupa erupsi eksplosif tetap bisa muncul secara tiba-tiba tanpa diduga sebelumnya," kata Agus.

Agus mengimbau masyarakat dan wisatawan yang hendak menyambangi atau wisata ke kawasan Gunung Merapi, jangan hanya karena didorong keinginan mencari pemandangan yang bagus. "Namun juga upayakan mencari informasi yang benar agar tetap aman," ujar Agus.

Ia mengingatkan masyarakat dan wisatawan agar selalu waspada terhadap bahaya laten gunung tersebut karena kondisi visual sering kali menipu. Menurut Agus, kewaspadaan mutlak diperlukan oleh siapa saja yang berada di sekitar kawasan rawan bencana demi keselamatan bersama. "Sebab di Gunung Merapi, yang paling berbahaya seringkali justru bukan saat terlihat meletus, tapi saat semuanya terlihat biasa saja," ujar Agus.

Aktivitas Gunung Merapi Meningkat

Berdasarkan hasil pengamatan sepanjang periode 26 Juni sampai 2 Juli 2026, BPPTKG mencatat telah terjadi sebanyak empat kali awan panas guguran yang meluncur dengan jarak maksimum mencapai 2.000 meter ke arah hulu Kali Krasak dan Kali Sat atau Putih. Selain awan panas, guguran lava juga aktif terjadi dan dapat teramati secara visual oleh petugas di lapangan. 

Guguran lava tersebut terbagi ke beberapa sektor pengaliran, yakni sebanyak delapan kali ke arah hulu Kali Boyong sejauh 2.000 meter, 47 kali ke arah hulu Kali Krasak dengan jarak maksimum 2.000 meter, 13 kali ke arah hulu Kali Bebeng sejauh maksimum 2.000 meter, serta intensitas tertinggi sebanyak 88 kali ke arah hulu Kali Sat atau Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.

Dari sisi kegempaan internal, jaringan seismik yang terpasang di Gunung Merapi dan sekitarnya merekam aktivitas yang tergolong cukup tinggi pada periode pengamatan ini. Juga lebih tinggi dibandingkan pada periode minggu sebelumnya.

Adapun pada Jumat, 3 Juli 2026, tercatat satu kali awan panas guguran pada pukul 23.07 WIB dengan jarak luncur sejauh 2.000 meter. Kenaikan aktivitas ini berlanjut pada Sabtu, 4 Juli 2026, di mana telah terjadi sebanyak tiga kali luncuran awan panas dalam kurun waktu dini hari hingga subuh.

Luncuran pertama pada hari Sabtu terjadi tepat pada pukul 01.32 WIB dengan jarak luncur maksimal mencapai 1.800 meter. Hanya berselang beberapa menit kemudian, tepatnya pada pukul 01.39 WIB, awan panas kembali meluncur dengan jarak maksimal sejauh 1.600 meter. 

Rangkaian awan panas pada hari Sabtu ditutup dengan kejadian ketiga yang terpantau pada pukul 03.51 WIB dengan jarak luncur maksimal menyentuh angka 1.700 meter. Seluruh data berkala ini menunjukkan status Merapi masih belum aman dan masyarakat diwajibkan untuk terus mematuhi rekomendasi jarak aman yang telah ditentukan.

Read Entire Article
Parenting |