JULIAN Alvarez menjadi pembeda saat membawa Atletico Madrid menang 2-0 atas Barcelona dalam leg pertama babak perempat final Liga Champions di Camp Nou, Kamis dinihari, 9 April 2026. Kemenangan ini mengakhiri penantian 20 tahun Atletico untuk menang di Camp Nou sekaligus menempatkan satu kaki mereka di babak semifinal Liga Champions.
Gol pembuka Álvarez lahir pada momen krusial pada menit ke-45 sesaat setelah bek muda Barcelona, Pau Cubarsi, diusir akibat pelanggaran terhadap Giuliano Simeone. Tendangan bebasnya meluncur ke sudut atas gawang, mengubah arah pertandingan secara drastis.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Gol kedua datang pada menit ke-70 melalui pemain pengganti Alexander Sorloth, yang memanfaatkan celah di sisi kiri pertahanan Barcelona. Barcelona bukan tanpa peluang. Marcus Rashford beberapa kali mengancam, bahkan sempat mencetak gol yang dianulir karena offside. Namun, intensitas permainan mereka tidak konsisten.
Di sinilah Alvarez menjadi pembeda. Ia tidak hanya mencetak gol, tetapi juga terus bergerak, menekan, dan membuka ruang. Situasi serupa tidak sepenuhnya terlihat dari lini depan Barcelona. Ketiadaan Raphinha karena cedera memperjelas masalah itu. Robert Lewandowski masih tajam di kotak penalti, tetapi kontribusinya di luar itu terbatas. Sementara Ferran Torres belum memberi dampak signifikan.
Barcelona kini memang tengah mencari penyerang nomor sembilan baru. Alvarez, meski mahal, digadang-gadang menjadi gambaran ideal profil penyerang yang Barca butuhkan. “Julian sedang dalam performa luar biasa,” kata Antoine Griezmann, seperti dikutip dari ESPN. “Dia punya sesuatu yang spesial dan saya harap dia bisa membawa kami hingga final.”
Pertandingan berubah tepat sebelum turun minum. Kartu merah Cubarsi, yang semula hanya kuning sebelum dikoreksi VAR, menjadi titik balik yang menentukan. Barcelona juga sempat memprotes keputusan wasit terkait dugaan handball pemain Atletico yang tidak berujung penalti. “Saya tidak tahu apa yang terjadi dalam situasi itu. Bagi saya, itu jelas kartu dan penalti,” kata pelatih Barcelona, Hansi Flick.
Meski bermain dengan 10 orang, Barcelona tetap mencatatkan 18 tembakan, jauh lebih banyak dibanding Atletico yang hanya lima. Namun, efektivitas menjadi pembeda utama.
Hasil ini menempatkan Atletico dalam posisi sangat menguntungkan menjelang leg kedua di Madrid. Barcelona masih memiliki peluang, tetapi harus mengejar defisit dua gol. “Dengan satu pemain lebih sedikit, kami sudah memberikan segalanya. Kami kurang beruntung, tapi ini belum selesai,” ujar Flick.


















































