PENULIS sekaligus aktivis perempuan, Kalis Mardiasih meluncurkan novel fiksi pertamanya berjudul Makamkan Ibu di Samping Ayah di Yogyakarta pada Ahad, 21 Juni 2026. Lewat novel yang diterbitkan Shira Media itu, ia mencoba menguak persoalan keluarga, dinamika perceraian, hingga trauma antargenerasi yang selama ini kerap dipendam dalam ruang sunyi kehidupan masyarakat Indonesia.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kehadiran novel setebal 142 halaman tersebut tidak hanya menandai babak baru karier kepenulisan dari penulis esai Parenting di Negara Gagal dan Muslimah yang Diperdebatkan itu. Namun juga untuk memantik diskusi di tengah publik, terutama soal isu kesehatan mental serta luka emosional herediter yang kian relevan dalam konteks keluarga modern.
"Setiap generasi memiliki cara yang berbeda dalam memandang dunia. Perbedaan itu tampak dalam cara seseorang memaknai pekerjaan, status sosial, jabatan, impian masa depan, hingga bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari," ujar Kalis.
Menurut aktivis Suara Ibu Indonesia itu, generasi muda yang tumbuh saat ini hidup dalam konteks sosial yang berbeda dengan orang tua mereka sehingga kerap memiliki cara pandang yang tidak selalu sejalan. “Anak-anak yang tumbuh hari ini memiliki cara melihat kehidupan yang berbeda dengan orang tua mereka. Mereka menghadapi realitas yang berbeda, memiliki cara berbeda dalam memaknai masa depan,” ujarnya.
Perbedaan tersebut bahkan dapat ditemukan dalam satu keluarga yang sama. Kalis menuturkan bahwa saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama dan dibesarkan dalam lingkungan yang sama belum tentu memiliki pengalaman emosional yang serupa.
Setiap anak memiliki hubungan yang unik dengan orang tuanya, sehingga membentuk cara pandang yang berbeda terhadap keluarga maupun kehidupan. Fenomena itu menjadi salah satu fondasi utama cerita dalam Makamkan Ibu di Samping Ayah ini.
Cerita dari Enam Sudut Pandang
Novel Kalis ini menggelitik. Karena bermula dari sebuah wasiat yang mengejutkan seorang ibu yang sedang menghadapi ajal meminta agar dirinya dimakamkan di samping mantan suaminya. Mantan suaminya merupakan seorang pria yang telah lama meninggalkan keluarga dan membangun kehidupan baru bersama perempuan lain.
Adanya permintaan terakhir tersebut seketika memaksa tiga anak sang ibu, yaitu Aji, Vikra, dan Lini, kembali berhadapan dengan masa lalu kelam yang selama ini coba mereka kubur dalam-dalam.
Kejadian ini membawa mereka masuk ke dalam pusaran rahasia, kemarahan, kesedihan, dan deretan pertanyaan emosional yang telah membayangi kehidupan mereka selama bertahun-tahun.
Melalui narasi yang dibangun dari enam sudut pandang berbeda, Kalis menyuguhkan gambaran dinamika keluarga yang kompleks tanpa menghadirkan polarisasi hitam-putih. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya benar maupun salah.
Karakter Aji ditampilkan sebagai anak sulung yang sudah dipaksa memikul tanggung jawab besar layaknya orang dewasa sejak usia remaja. Sementara itu, Vikra memilih jalan sunyi dengan diam sebagai mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi konflik internal keluarga yang tiada habisnya.
Di sisi lain, sang anak bungsu yang bernama Lini, tumbuh besar tanpa memiliki banyak memori bersama ayah kandungnya. Ia terpaksa merajut persepsinya sendiri mengenai sosok sang ayah yang selama ini hanya bisa ia ketahui melalui cerita orang lain.
Melalui penggambaran karakter tiga bersaudara dalam novelnya, Kalis ingin membuktikan bahwa dinamika emosional setiap individu bersifat sangat unik.
Melihat Luka yang Tak Tampak
Ketika berbicara mengenai fenomena toxic parenting dan warisan luka masa lalu yang kini ramai menjadi perbincangan publik di media sosial, Kalis mengajak pembaca untuk melihat persoalan tersebut dengan kacamata yang penuh empati dan tidak terburu-buru menghakimi. Ia menekankan bahwa luka yang diwariskan orang tua kepada anak-anaknya bukan terjadi karena kebencian. Melainkan karena orang tua mereka pun tidak pernah diajarkan cara menyembuhkannya.
"Saya mengajak pembaca agar lebih peka terhadap lingkungan sekitar, sebab banyak korban trauma domestik yang pandai menyembunyikan kesedihan di balik aktivitas sehari-hari," kata dia.
Menurutnya, ada banyak orang yang terlihat baik-baik saja saat bekerja, kuliah, atau bermain dengan teman-temannya, tapi tidak pernah benar-benar tahu beban emosional berat yang mereka bawa setiap hari.
Puput Alvia dari Shira Media membeberkan argumen di balik ketertarikannya menerbitkan karya fiksi perdana Kalis itu. Puput mengungkapkan bahwa setiap pembaca pasti memiliki keluarga sehingga mereka bisa merasa dekat dengan tokoh-tokohnya, baik sebagai anak pertama, anak kedua, maupun anak ketiga.
"Bahasa cerita novel ini sangat ringan dibaca tetapi tetap menyimpan kedalaman emosi yang kuat," kata dia.
Puput menuturkan, bagaimana sebuah karya sastra seharusnya mampu menyampaikan pesan-pesan kesehatan mental yang berat tanpa harus membuat pembaca merasa asing dengan istilah yang digunakan. "Banyak karya lain yang mengangkat tema berat dengan pendekatan terlalu kompleks sehingga tidak selalu mudah diakses oleh pembaca umum," ujarnya.
Oleh karena itu, ia sengaja memilih naskah ini karena pendekatan komunikasinya yang dinilai sangat humanis, hadir dengan bahasa yang lebih sederhana dan hangat, tanpa kehilangan substansi persoalan yang diangkat. "Kami berharap pembaca tidak akan merasa digurui atau dipaksa memahami teori-teori psikologi yang rumit, melainkan diajak mengenali pengalaman hidup mereka sendiri melalui perjalanan para tokoh dalam novel," ungkapnya.

















































