KEMENTERIAN Perindustrian (Kemenperin) menyoroti peredaran truk impor yang tidak melalui homologasi dan diduga tidak memenuhi standar emisi Euro 4. “Kondisi ini berpotensi menciptakan persaingan usaha yang tidak sehat serta menghambat upaya pengendalian pencemaran udara,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Eko S.A. Cahyanto, dalam keterangan tertulis, Kamis, 9 April 2026.
Eko mengatakan dalam dua tahun terakhir muncul ketidakseimbangan antara produksi domestik dan penjualan nasional. Data Kementerian Perindustrian mencatat terdapat selisih 4.000 unit penjualan kendaraan niaga antara produksi domestik dan impor pada 2025. Menurutnya, kesenjangan antara pasokan domestik dan penjual harus segera direspons melalui penguatan struktur industri, peningkatan efisiensi produksi, dan optimalisasi kapasitas terpasang.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia pun menyoroti penurunan tingkat utilisasi industri. Ia menyatakan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan produksi kendaraan niaga pada 2025 mengalami koreksi sebesar 3,5 persen menjadi 164 ribu unit.
Jumlahnya merosot dari produksi pada 2024 yang hampir 170 ribu unit. Walhasil, tingkat utilisasi industri turun menjadi sekitar 58 persen atau di bawah batas efisiensi skala industri.
Adapun kontribusi sektor industri alat transportasi mencapai 1,27 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Lalu kontribusi subsektor perdagangan mobil, sepeda motor, dan jasa reparasinya mencapai 2,02 persen terhadap PDB nasional.
Menurut Eko, kinerja ini mencerminkan meningkatnya kebutuhan distribusi barang, layanan purna jual, dan peremajaan armada kendaraan niaga di berbagai sektor usaha.
Dari sisi permintaan, Eko menyatakan sektor transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan sebesar 8,78 persen pada 2025. Ia mengatakan pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan akan kendaraan niaga untuk mendukung sistem logistik nasional.
Sementara itu Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika menyatakan sektor kendaraan komersial yang memproduksi truk hingga bus berperan vital dalam distribusi nasional. “Untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, dibutuhkan kendaraan komersial yang tangguh, efisien, dan mengadopsi teknologi masa depan,” katanya.
Putu mencatat total ekspor kendaraan utuh (CBU) mencapai 518.212 unit atau meningkat 9,75 persen pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, kendaraan komersial menyumbang 20.326 unit.


















































