Kronologi Eks Ketua BEM UGM Temukan Alat Pelacak di Mobilnya

5 hours ago 9

TIYO Ardianto baru beres mengikuti demonstrasi Gejayan Memanggil bersama mahasiswa dan gerakan sipil di Yogyakarta pada Sabtu, 13 Juni 2026. Hari itu mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada atau BEM UGM ini berkendara menggunakan mobil.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Tiyo mengatakan semenjak merasa kurang aman dalam bepergian, ia meminjam mobil saudaranya sebagai alat transportasinya. Di tengah perjalanan seusai aksi, Tiyo mendapati satu notifikasi yang tak biasa muncul dari gawainya.

“Alat pelacak yang bernama PBX Finder ditemukan bergerak bersama saya,” kata Tiyo sesaat mengecek isi notifikasi tersebut.

Tiyo kemudian turun dari mobil untuk mencari keberadaan alat pelacak tersebut. Tak lama, satu unit PBX Finder ditemukan Tiyo di bawah kerangka bodi mobil berwarna hitam tersebut.

Tiyo lantas berkomunikasi dengan sejumlah orang terdekatnya. Mereka menyarankan Tiyo agar merendam perangkat pelacak tersebut ke air. “Saya tidak tahu siapa yang pasang alat pelacak itu,” ujarnya. Dia menduga telah dikuntit oleh orang tak dikenal.

Mahasiswa jurusan S1 Filsafat UGM ini menilai dugaan penguntitan menggunakan alat pelacak oleh orang tak dikenal ini tak lazim. Dia menyorot cara rezim kekuasaan yang kerap meneror rakyat yang mengkritik kebijakan pemerintah.

Belakangan Tiyo menerima kabar dari rekan-rekannya di BEM UGM yang juga diganggu melalui pesan dari pengirim tak dikenal. Tiyo mengatakan sudah ada puluhan pesan yang diterima teman-temannya dari nomor yang sama sejak 13 Juni.

“Belum didata berapa banyak, tapi kemungkinan sekitar 30-an,” kata dia.

Dia menyesalkan cara-cara teror dan intimidasi dipakai untuk menekan masyarakat yang vokal bersuara kritis. Padahal, ujar Tiyo, kritik dari masyarakat sipil ditujukan untuk perbaikan bangsa. 

Kritik tersebut, Tiyo melanjutkan, dilakukan atas dasar ketulusan cinta kepada Tanah Air. Namun, dia mengatakan kepedulian tersebut justru dibalas dengan ancaman dan marabahaya. 

Dia menganalogikan kritikan sebagai obat untuk pemerintah yang kini dilanda penyakit akibat kebijakan tidak pro rakyat. “Betapa berbahayanya menjadi manusia Indonesia yang mencintai bangsanya. Kita beri obat untuk penyakit-penyakitnya, tapi ia justru mencoba meracuni kita,” ujar dia.

Read Entire Article
Parenting |