CANTIKA.COM, Jakarta - Sutradara Ryan Adriandhy kembali menghadirkan karya untuk merayakan dunia anak-anak lewat sudut pandang yang jujur dan imajinatif. Setelah sukses dengan Jumbo, kini ia mempersembahkan Na Willa, film terbaru bersama Visinema Studios yang mengajak penonton menyusuri kembali kenangan masa kecil yang sederhana namun penuh warna.
Tayang di bioskop sejak 18 Maret 2026, film ini berfokus pada kehidupan sehari-hari Na Willa (Luisa Adreena), anak perempuan berusia lima tahun yang penuh rasa ingin tahu. Ia tumbuh bersama Mak (Irma Rihi) dan Pak (Junior Liem), seorang pelaut yang kerap jauh dari rumah. Hari-hari Willa terasa semakin hidup berkat kebersamaannya dengan tiga sahabatnya: Dul, Bud, dan Farida, yang menghadirkan momen-momen polos sekaligus menghibur sepanjang cerita.
Nostalgia yang Terasa Dekat
Diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo, Na Willa mengambil latar Krembangan, Surabaya, pada era 1960-an. Detail visualnya hadir seperti potongan memori yang disusun rapi, yaitu rumah dengan arsitektur lama, radio tabung, jemuran tali rami, hingga ubin klasik bermotif bunga yang dinginnya seperti masih bisa dirasakan di telapak kaki.
Nuansa jadul ini pun bukan sekadar estetika, tapi juga menjadi jembatan emosional. Lewat film ini, generasi Baby Boomers hingga Gen Z pun bisa menemukan potongan kenangan yang terasa familiar, seperti suasana rumah nenek di kampung yang hangat dan penuh cerita. Tak hanya itu, gaya berpakaian para karakter pun memperkuat nuansa vintage tersebut. Willa dengan celana polkadot longgarnya, Mak dengan gaun sederhana, hingga Bud dengan celana monyet kotak-kotak, semuanya seperti keluar dari album foto lama yang tiba-tiba hidup kembali. Permainan tradisional seperti kelereng, layang-layang, dan engklek turut dihadirkan, menciptakan atmosfer masa kecil yang terasa lebih “hidup” dibanding sekadar layar gadget.
Sentuhan Musikal dan Imajinasi
Ryan Adriandhy tidak berhenti pada cerita sederhana, di mana ia menyelipkan elemen kreatif seperti mini teater dan teknik visual yang membuat narasi terasa lebih luas, termasuk saat Willa membacakan surat dari sang ayah.
Warna-warna cerah yang digunakan sepanjang film berpadu dengan animasi sederhana yang merepresentasikan imajinasi liar khas anak-anak. Sentuhan ini mengingatkan pada gaya visual film Diary of a Wimpy Kid, yang juga menggabungkan realitas dengan ilustrasi imajinatif.
Salah satu momen paling berkesan hadir lewat adegan musikal saat Willa mengunjungi Dul di rumah sakit. Dari suara ketukan kaki palsu Dul, lahirlah lagu “Sikilku Iso Muni” karya Laleilmanino yang dibawakan dengan ceria, lengkap dengan koreografi yang tak terduga. Adegan ini menjadi titik emosional yang unik, sekaligus memperkaya dinamika cerita.
Lebih dari Sekadar Film Anak
Di balik keceriaannya, Na Willa menyimpan banyak pesan moral dan lewat karakter ini pentingnya kejujuran yang disampaikan dengan cara sederhana menjadi salah satu sorotan, bahkan dari sudut pandang seorang anak kecil. Kemudian, Mak, sebagai sosok ibu, memberikan gambaran tentang pola asuh yang penuh empati dan cinta yang tidak selalu hadir lewat kata-kata, tapi juga bisa hadir melalui kepercayaan dan tindakan kecil yang berarti besar bagi anak.
Tak sampai di situ, film ini juga mengangkat nilai keberagaman dalam kehidupan sosial. Perbedaan tidak digambarkan sebagai penghalang, melainkan sesuatu yang bisa dipersatukan lewat ketulusan dan niat baik.
Menonton Na Willa terasa seperti membuka kotak kenangan lama yang penuh debu, tapi di dalamnya tersimpan cerita-cerita hangat yang tak lekang oleh waktu. Film ini juga berhasil merangkai potongan cerita dari novel menjadi narasi yang utuh tanpa kehilangan pesona “keajaiban kecilnya” lewat visual indah, ceritanya mengalir, dan emosinya terasa jujur.
Pilihan Editor: Ada Pavane Hingga Casino, Ini 7 Rekomendasi Film Netflix yang Bisa Ditonton saat Libur Lebaran
CAHYA SAPUTRA I MARVELA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

















































