Nurhayati Keluar dari Kereta yang Tertabrak, Lalu Meninggal

4 hours ago 11

TABRAKAN antara KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi dan KRL jurusan Kampung Bandan–Cikarang merenggut belasan nyawa. Para korban tewas merupakan penumpang gerbong khusus perempuan KRL, termasuk Nurhayati.

Shofiyatun, anak Nurhayati, menceritakan detik-detik terakhir ibundanya. Menurut dia, Nurhayati meninggal setelah mengalami shock akibat tabrakan. “Di dalam gerbong kondisinya mati listrik, jadi mungkin kekurangan oksigen, pas keluar langsung jatuh,” kata Shofiyatun pada Selasa, 28 April 2026.

Malam itu, Shofiyatun semula berencana menemani ibunya mengunjungi saudara kembar Nurhayati yang sedang sakit. Mereka berangkat dari Stasiun Kebayoran sekitar pukul 20.00 WIB.

Saat tiba di Stasiun Bekasi Timur, kereta yang mereka tumpangi mendadak berhenti. Shofiyatun mengatakan kereta terpaksa berhenti setelah rangkaian di depan menabrak sebuah taksi.

Menurut Shofiyatun, banyak penumpang memutuskan keluar dari kereta. Namun, tak lama kemudian, aliran listrik di dalam gerbong padam. “Lalu ada bunyi kencang, kereta kami dihantam dari belakang,” ujarnya.

Shofiyatun mengatakan benturan keras itu menghantam gerbong bagian belakang. Meski begitu, getarannya tetap terasa hingga ke gerbong tengah tempat ia, ibunya, dan anaknya berada. “Anak saya juga sempat terlempar,” tutur Shofiyatun.

Setelah tabrakan terjadi, situasi di dalam gerbong berubah kacau. Shofiyatun dan ibunya kesulitan keluar, sementara anaknya berhasil menyelamatkan diri melalui celah jendela yang telah dipecahkan. Petugas baru mengevakuasi mereka sekitar 15 menit setelah tabrakan.

Saat berhasil keluar, Nurhayati masih sadar. Orang-orang sempat menggotongnya untuk dibawa ke rumah sakit. Namun, nyawanya tak tertolong. “Kemungkinan meninggal di perjalanan,” ujar Shofiyatun.

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat 14 orang meninggal dalam insiden tersebut. Direktur Utama KAI Bobby mengatakan seluruh korban meninggal telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi. "Selain korban meninggal, sebanyak 84 orang mengalami luka-luka,"

Petugas membawa mereka ke berbagai rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Korban dirawat di RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, dan RS Mitra Keluarga.

Seluruh korban meninggal dan luka-luka merupakan penumpang KRL. Sementara itu, seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek yang berjumlah 240 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

Pilihan Editor: Mengapa Perlintasan Kereta Api Rawan Kecelakaan?

Read Entire Article
Parenting |