CANTIKA.COM, Jakarta - Segala kalangan semakin vokal menyuarakan setop program Makanan Bergizi Gratis (MBG) termasuk Aliansi Perempuan Indonesia. Hari ini, mereka berkumpul menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Negara.
Massa yang terdiri dari organisasi perempuan dan masyarakat sipil itu kompak mengenakan pakaian berwarna merah muda dan daster. Beberapa di antaranya membawa perabotan dapur, spanduk, poster, serta atribut yang berisi tuntutan terkait harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Fanda, salah satu massa aksi mengatakan tidak ada persiapan khusus untuk mengikuti aksi tersebut. Persiapan yang dilakukan lebih bersifat pribadi, terutama mengatur waktu karena aksi berlangsung pada hari kerja.
“Awalnya saya bekerja. Saya memang sengaja izin karena merasa harus ikut berjuang di jalanan,” kata Fanda, Kamis kepada Tempo.
Fanda mengatakan motivasinya mengikuti aksi adalah karena persoalan yang diangkat merupakan masalah bersama. Ia menilai masyarakat merasakan dampak kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Naik ojek online saja terasa dampaknya. Pengemudi kasihan, kita juga kasihan. Ini isu yang dekat dengan keseharian kita,” kata Fanda.
Karena itu, Fanda merasa perlu menyuarakan persoalan tersebut. “Ini yang memotivasi saya untuk ikut memperjuangkannya. Dampaknya saya rasakan sendiri. Kalau ada orang lain yang merasa terwakili, itu bagus,” ujarnya.
Aksi yang digelar Aliansi Perempuan Indonesia membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintah, antara lain penurunan harga kebutuhan pokok, penciptaan lapangan kerja yang layak, serta evaluasi terhadap program Makan Bergizi Gratis. Saat ini, massa sedang bergerak menuju depan Istana Negara.
Akumulasi Frustrasi Para Perempuan
Perwakilan Aliansi Perempuan Indonesia Mutiara Ika Pratiwi menjelaskan demonstrasi yang mayoritas akan diikuti oleh perempuan dari kalangan buruh ini merupakan akumulasi dari rasa frustasi para perempuan yang terdampak akibat berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat, termasuk dua di antaranya kenaikan harga BBM dan proyek MBG.
Menurut Mutiara, dua kebijakan tersebut telah menimbulkan efek domino yang menyengsarakan masyarakat. Di mana kenaikan harga BBM telah membuat harga bahan-bahan pokok melambung tinggi. Hal itu kemudian secara tidak langsung telah mencekik kehidupan perempuan, khususnya para buruh yang bekerja dengan upah murah dan jam kerja yang panjang.
Tak hanya itu, kebijakan tersebut dinilai telah menekan masyarakat kalangan menengah, yang cukup banyak menjadi pemberi kerja bagi pekerja rumah tangga (PRT). “Itu membuat kami para perempuan yang bekerja sebagai PRT banyak yang kena PHK karena beban tanggungan mereka juga meningkat sehingga tidak mampu mempekerjakan PRT lagi,” tandas Mutiara.
Pilihan Editor: 6 Tuntutan Aliansi Perempuan Indonesia, Cabut Fasilitas dan Tunjangan DPR
EPI SUSANTI
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.















































