TIM pengamat berhasil mengamati peristiwa gerhana bintang sesaat dari okultasi asteroid Strenua yang jalurnya melintasi sebagian wilayah Indonesia pada Ahad malam, 26 April 2026, pukul 19.41 WIB. Sebanyak tiga dari empat tim pengamat dari Observatorium Bosscha merekam fenomena itu dari Observatorium Bosscha di Lembang, serta lokasi pengamatan di Jayagiri dan Kupang.
“Tim Bosscha yang di Kupang dapat jelas hilangnya bintang secara visual karena lokasinya tepat hampir di tengah lintasan, jadi durasinya juga paling lama,” kata astronom Observatorium Bosscha, Agus Triono Puri Jatmiko, Senin, 27 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Okultasi merupakan peristiwa tertutupnya suatu benda langit oleh benda langit lain. Saat asteroid Strenua yang diperkirakan berukuran puluhan kilometer itu melintas, objek itu menutupi cahaya bintang HIP 35933 (HD 58050) di belakangnya dari pengamatan di Bumi.
Tim Bosscha di Kupang menangkap fenomena itu yang terjadi hanya sesaat. “Sekitar 1,52 detik,” ujar Agus. Pengamatan membutuhkan teleskop, kamera, komputer, dan perangkat lunak pendukung.
Arah asteroid itu bergerak dari barat ke timur yang garis lintasannya membentang dari tengah Samudra Atlantik Selatan melewati beberapa daerah di Kongo, Tanzania, Kenya, Samudra Hindia hingga ke wilayah Indonesia dan berujung di timur Australia.
Dari kabar sementara, tim lain yang berhasil mengamati okultasi itu adalah tim dari Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, tim Penjelajah Langit Yogyakarta, tim dari Universitas Pendidikan Indonesia, dan Imah Noong di Bandung.
Sementara itu, pengamat di Pasuruan, Jawa Timur, Muhammad Hammam Nasiruddin, gagal mengamati okultasi. Di saat langit yang mendung sejak sore, Bulan sebagai objek paling terang sempat terlihat. “Pas waktunya okultasi turun hujan,” kata ketua edukator di Planetarium Ranting Sewu itu, Senin.
Beberapa kali sebelumnya Hammam telah menguji coba peralatan dan menemukan bintang targetnya yang berlokasi di rasi Gemini. Posisinya tidak jauh dari penampakan Planet Jupiter di langit, yaitu agak ke atas sebelah kiri atau arah barat laut.
Menurut Aditya Abdilah Yusuf, pengamat di Observatorium Astronomi Institut Teknologi Sumatra Lampung (OAIL), tim bisa merekam bintang selama terjadinya okultasi. “Namun tidak mendapatkan peredupan bintang, sesuai dengan prediksi,” katanya, Senin. Daerah Lampung termasuk di luar jalur lintasan, namun begitu data hasil pengamatannya tetap dibutuhkan.
Observatorium Bosscha sejak Maret lalu menginisiasi pengamatan bersama okultasi asteroid Strenua disertai kolokium dan pelatihan hingga menggaet 35 institusi, komunitas, dan individu yang tersebar di 45 lokasi.
Lokasi yang dilintasi jalur tengah asteroid di daratan, antara lain mulai dari ujung Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Gunung Anak Krakatau, Pantai Carita Banten, Bogor, Purwakarta, Subang, Sumedang, Majalengka, Kuningan. Kemudian Pemalang, Salatiga, Batu, Banyuwangi, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sumbawa, selatan Nusa Tenggara Timur.
Dalam pengamatan itu peneliti astronom Observatorium Bosscha memerlukan banyak data, di antaranya untuk mengetahui informasi asteroid yang masih minim, seperti bentuk, ukuran, dan kemungkinan objek lain yang belum terungkap.
Asteroid sabuk utama itu diketahui mengorbit Matahari di antara Mars-Jupiter dan merupakan objek yang relatif redup. Meskipun Strenua sejauh ini tergolong bukan objek yang berbahaya bagi Bumi, peristiwa okultasi yang mekanismenya sederhana itu menjadi salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan akurasi data suatu objek langit.
Setelah pengamatan selesai, tahap berikutnya adalah pengiriman data kontributor pengamat ke server. Tantangan pada proses ini, menurut Agus, adalah ukuran data yang besar, minimal 20 gigabyte (GB) per titik pengamatan.
Ukuran bisa lebih besar lagi sesuai konfigurasi dan pengaturan instrumen yang digunakan saat pengamatan. “Setelah itu pengolahan data dari yang terkumpul dan analisis untuk publikasi ilmiah secepatnya,” kata dia.















































