Penjualan Pertamax Diprediksi Turun 10 Persen

8 hours ago 11

DOSEN Ekonomi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, memproyeksi 10 persen dari konsumen bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax akan pindah ke Pertalite imbas kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi tersebut.

“Belajar dari pengalaman April 2022, ketika Pertamax naik 39 persen dan sekitar satu dari delapan orang pembeli pindah ke Pertalite, kami perkirakan penjualan Pertamax turun sekitar 10 persen,” kata Yayan, seperti dikutip dari Antara, Ahad, 14 Juni 2026. Yayan menilai, ketika harga Pertamax naik, orang-orang tidak mengurangi intensitas bepergian, tetapi berpindah ke BBM Pertalite yang lebih murah.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Harga BBM jenis Pertamax (RON 92) yang sebelumnya Rp 12.300 per liter naik menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara itu, harga Pertalite stabil di level Rp 10.000 per liter.

Ia menyatakan selisih harga antara keduanya yang mencapai Rp 6.250 per liter terbilang jauh. “Tetapi kuota Pertalite masih cukup untuk menampung perpindahan ini. Hanya sekitar sepertiga dari sisa kuota yang akan terpakai,” ujar Yayan.

Yayan pun menganalisis bagaimana kenaikan Pertamax memengaruhi berbagai lapisan masyarakat. Pemilik mobil yang mengisi 100 liter Pertamax dalam satu bulan harus menambah dana sekitar Rp 395 ribu per bulan. Sementara pengendara motor yang memakai 30 liter sebulan akan menambah anggaran sekitar Rp 119 ribu.

Ia pun membedah pengaruh kenaikan harga Pertamax berdasarkan sistem pemeringkatan kesejahteraan masyarakat yang digunakan pemerintah yang dibagi menjadi Desil 1–10. Untuk kelompok rumah tangga Desil 1 atau kategori termiskin, Yayan menyampaikan tidak terlalu terpengaruh karena hampir tidak memakai Pertamax.

Sementara itu, untuk kelas menengah atau Desil 5–7, Yayan memperkirakan sebagiannya akan pindah untuk mengonsumsi Pertalite. Lebih lanjut, untuk kelompok rumah tangga menengah atas (D8–D9) sebagai pengguna mobil reguler akan mengalami peningkatan biaya per bulan.

Untuk kelompok rumah tangga terkaya atau Desil 10, Yayan memperkirakan mereka akan memikul beban terbesar, sebab armada perusahaan, kendaraan operasional perkebunan dan tambang dilarang memakai BBM bersubsidi. “Singkatnya, sekitar separuh dari total beban kenaikan ini ditanggung oleh 20 persen rumah tangga terkaya. Kenaikan Pertamax bekerja seperti pajak yang lebih banyak menyasar orang mampu,” ucap Yayan.

Ihwal migrasi konsumen dari Pertamax ke Pertalite, PT Pertamina Patra Niaga memastikan Pertalite tidak mengalami kelangkaan. Selain itu, distribusi Pertalite di seluruh jaringan SPBU terus berjalan normal sesuai penugasan pemerintah.

“Kami mengimbau masyarakat untuk bijak menggunakan energi dengan membeli BBM sesuai kebutuhan dan sesuai dengan peruntukannya serta sesuai dengan jenis kendaraan yang digunakan,” kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun.

Read Entire Article
Parenting |