Profil Mpok Nori, Seniman dan Komedian Legendaris Betawi

8 hours ago 1

Sepuluh tahun lalu, seorang seniman betawi meninggal. Ia adalah Mpok Nori. Ia memiliki perjalanan hidup yang penuh warna dan penuh makna dalam sejarah seni Jakarta. Di balik sorot lampu panggung dan tawa penonton, Mpok Nori adalah wanita yang menempuh jalur panjang dalam memperjuangkan seni Betawi, tidak hanya sebagai seorang pelawak, tetapi juga sebagai penjaga tradisi. 

Kiprahnya yang dimulai dari jalanan hingga panggung besar, menjadikannya sebagai salah satu ikon budaya Betawi yang turut merubah wajah seni Jakarta di era modern. Namun, perjalanan hidup Mpok Nori tidaklah lepas dari perjuangan keras, baik sebagai seniman wanita di dunia seni yang didominasi laki-laki, maupun dalam mengatasi tantangan pribadi yang datang. Ia dikenal sebagai sosok yang pendiam dalam kehidupan sehari-hari, berbanding terbalik dengan penampilannya yang energik di atas panggung. 

Profil Mpok Nori

Tidak banyak seniman yang tetap relevan seiring bertambahnya usia, tetapi Mpok Nori adalah pengecualian. Lahir dengan nama Nuri Sarinuri di Depok pada 10 Agustus 1930, sosoknya justru semakin bersinar di usia senja. Dengan suara melengking khas, keahlian bersilat, hingga kemampuan meniru teriakan rocker, ia berhasil merebut perhatian lintas generasi.

Nama Mpok Nori kerap tenggelam di balik bayang-bayang seniman Betawi pria seperti Benyamin Sueb dan Haji Bokir. Meski begitu, kontribusinya dalam seni lenong dan komedi Betawi tidak bisa dipandang sebelah mata. Di tengah minimnya dokumentasi sejarah mengenai kiprahnya, skripsi Imas Yosita dari Universitas Indonesia menjadi salah satu sumber langka yang mengabadikan perjalanan seni Mpok Nori.

Pengakuan terhadap jasanya baru semakin nyata pada 2022, saat Pemprov DKI Jakarta mengabadikan namanya menjadi nama jalan di Kecamatan Cipayung. Keputusan ini menegaskan perannya sebagai bagian dari sejarah seni dan budaya Jakarta.

Dari Ronggeng ke Pelawak

Dilansir dari laman Indonesia Kaya, Mpok Nori lahir di lingkungan keluarga seniman dan memulai kariernya sebagai ronggeng topeng. Saat itu, perempuan dalam pertunjukan topeng lebih banyak berperan sebagai penari dan pemberi nasihat, sementara humor menjadi ranah laki-laki.

Namun, dorongan dari Haji Bokir mengubah arah kariernya. Pada akhir 1960-an, Mpok Nori bergabung dengan Grup Topeng Setia Warga. Dia mulai mendalami seni lenong dan melibatkan diri dalam peran sebagai bodor, yaitu pemain yang membawa unsur komedi dalam lenong. Lenong yang awalnya didominasi oleh pemain laki-laki untuk peran bodor, mulai berubah seiring dengan partisipasi perempuan, termasuk Mpok Nori, yang turut membawa humor ke dalam pertunjukan. Dengan peran tersebut, Mpok Nori berhasil mengubah lenong dari seni tradisional menjadi lebih modern dan diterima oleh berbagai kalangan, terutama di Jakarta.

Dalam perkembangan selanjutnya, ia diakui sebagai salah satu tokoh yang berhasil mengangkat lenong ke panggung-panggung besar bahkan hingga televisi. Keberhasilannya dalam membawakan komedi Betawi mengantarkannya mendapatkan berbagai penghargaan. Pada 2011, ia menerima KOMBRED Award dari Yayasan Komedi Betawi. Dua tahun kemudian, Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PASKI) memberikan penghargaan atas dedikasinya dalam dunia komedi Indonesia.

Ikon Komedi di Layar Kaca

Perjalanan Mpok Nori dari jalanan hingga panggung besar tidak berhenti di pertunjukan langsung. Pada 1990-an, ia mulai muncul di televisi dalam berbagai program komedi situasi. Namanya semakin melambung lewat serial Pepesan Kosong (1993-1995), di mana ia memerankan nenek gaul yang lincah dan cerewet.

Karakter ini kemudian menjadi ciri khasnya dalam berbagai film dan sinetron, termasuk dalam film horor komedi seperti Hantu Biang Kerok dan Tiren: Mati Kemaren. Meski sering memerankan karakter serupa, penampilan Mpok Nori selalu menghadirkan warna tersendiri dalam setiap proyek yang ia jalani.

Prinsipnya dalam Mempertahankan Seni

Bagi Mpok Nori, seni bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup. Ia berasal dari keluarga yang sangat menghargai seni dengan orang tua yang merupakan seniman topeng Betawi. Sejak kecil, Mpok Nori sudah terlibat dalam pertunjukan topeng bersama keluarganya, yang membentuk dasar dari kecintaannya terhadap seni tradisional Betawi. Bahkan, di usia muda, ia memilih untuk meninggalkan sekolah demi membantu keluarga dalam pertunjukan topeng, yang kelak menjadi pondasi karier seni Nori.

Seiring berjalannya waktu, Nori tidak hanya dikenal sebagai seorang pelawak dan penari topeng Betawi, tetapi juga sebagai pengajar. Pada 1988, ia menerima tawaran untuk mengajar tari topeng Betawi di Akademi Tari Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), yang semakin menambah dedikasinya di dunia seni. Meskipun akhirnya ia memilih untuk berhenti mengajar dan mendirikan sanggar seni sendiri, semangatnya untuk melestarikan seni Betawi tetap tinggi.

Sementara perjalanan seni Mpok Nori semakin dikenang, penghargaan terhadap kiprahnya juga semakin berkembang. Pada peringatan HUT DKI Jakarta ke-495 pada 22 Juni 2022, nama Mpok Nori diabadikan dalam bentuk nama jalan yang sebelumnya dikenal sebagai Jalan Bambu Apus di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Penetapan ini menunjukkan betapa besar kontribusi Mpok Nori terhadap seni dan budaya Betawi yang tak hanya diakui di kalangan seniman tetapi juga oleh pemerintah DKI Jakarta.

Warisan yang Tak Lekang Waktu

Dikutip dari laporan Antara, Mpok Nori meninggal dunia pada 3 April 2015. Dirinya telah meninggalkan sebuah warisan besar bagi seni Betawi. Kehadirannya tidak hanya menginspirasi generasi sebelumnya, tetapi juga para pemuda Jakarta yang mulai mengenal seni tradisional Betawi. 

Penghargaan yang diberikan kepada Mpok Nori menjadi bukti bahwa ia bukan hanya seorang pelawak, tetapi juga seorang pejuang seni yang berhasil mempertahankan dan mengembangkan budaya Betawi hingga ke panggung-panggung besar. Namanya kini abadi, tidak hanya dalam ingatan penggemar tetapi juga di jalanan ibu kota yang dulu menjadi panggung pertamanya.

Fathur Rachman berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor: Sastra Betawi: Catatan Puitis Seorang Highlander

Read Entire Article
Parenting |