Purbaya: Investor AS Lebih Tertarik Instrumen Portofolio

3 hours ago 6

MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan sejumlah investor Amerika Serikat lebih memilih instrumen investasi di sektor keuangan seperti obligasi dan saham. Preferensi investor tersebut diungkapkan oleh bendahara negara setelah ia bertemu dengan 18 investor termasuk Goldman Sachs dan Fidelity Investments.

Pertemuan Purbaya dengan para investor dilakukan di Washington DC pada Selasa, 14 April 2026 waktu setempat. “Mereka ingin memahami arah kebijakan pertumbuhan dan pengelolaan anggaran Indonesia, serta menilai apakah strategi tersebut kredibel dan berkelanjutan,” ujar Purbaya, seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis, 16 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Purbaya, investor global asal AS menunjukkan ketertarikan pada instrumen investasi portofolio bukan jenis investasi asing langsung alias foreign direct investment (FDI). Instrumen yang diminati adalah pendapatan tetap (fixed income) dan saham (equity). 

“Sebagian ada yang minat fixed income, sebagian equity. Ini kan financial sector (sektor keuangan), bukan FDI,” ucap Menteri yang menjabat sejak September 2025 itu.

Karena bentuknya sebagian besar saham, Purbaya yakin minat-minat investasi tersebut bakal segera terealisasi. “Jadi seharusnya enggak lama lagi akan masuk ke Indonesia, dan akan mendorong pasar modal Indonesia ke level yang lebih tinggi lagi,” ucapnya.

Sehari sebelum bertemu Goldman Sachs dan sejumlah perusahaan raksasa AS, Purbaya bertemu investor dari perusahaan manajer investasi internasional di New York. Lima perusahaan yang ditemui Purbaya pada 13 April 2026 di antaranya BlackRock, HSBC Global Asset Management, Lazard AM, Lord Abbett dan TD Asset Management.

Kepada para investor Purbaya juga menjelaskan kondisi makro ekonomi Indonesia serta pengelolaan fiskal pemerintah. Ia menyatakan bahwa pemodal asal AS tersebut yakin dengan pengelolaan fiskal pemerintah. Sehingga berminat melakukan investasi di Indonesia.

Para investor juga mengajukan beberapa pertanyaan untuk memastikan keraguan mereka terhadap kondisi aktual Indonesia. Menurut Purbaya, awalnya para investor tersebut ragu karena banyak mendengar kabar bahwa pengelolaan fiskal pemerintah bermasalah. “Jadi mereka ingin memastikan bahwa itu tidak benar, kebijakan fundamental kita seperti apa,” katanya pada Senin, 13 April 2026.

Read Entire Article
Parenting |