MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan sejumlah indikator utama menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia terus menguat dan bergerak secara inklusif. Menurut dia, hal itu tercermin dari Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur yang berada di level ekspansif 50,0. Lalu pertumbuhan likuiditas perekonomian (M0) sebesar 14,8 persen secara tahunan (year-on-year), serta pertumbuhan kredit perbankan sebesar 11,5 persen (secara tahunan).
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat menyampaikan pidato ilmiah dalam kuliah umum di Nankai University, Tianjin, Cina. "Paling krusial, pertumbuhan ekonomi yang kokoh ini langsung ditranslasikan ke dalam peningkatan kesejahteraan riil masyarakat luas melalui perbaikan pasar tenaga kerja," kata Purbaya dalam keterangan resmi, Sabtu, 20 Juni 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Purbaya mengatakan posisi eksternal Indonesia juga didukung oleh surplus neraca perdagangan yang bertahan selama 72 bulan berturut-turut serta cadangan devisa sebesar US$ 144,9 miliar, setara 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang kuat turut tercermin pada perbaikan pasar tenaga kerja. Penciptaan sekitar 1,9 juta lapangan kerja baru berhasil menurunkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) menjadi 4,68 persen pada 2026. Sementara itu, tingkat kemiskinan turun dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025.
Purbaya juga memaparkan bahwa pemerintah telah menetapkan delapan klaster program prioritas nasional untuk menerjemahkan strategi pembangunan ke dalam hasil yang nyata. Prioritas tersebut mencakup kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta pembangunan infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana.
Selain itu, pemerintah Indonesia mempercepat transformasi struktural melalui program hilirisasi dan industrialisasi, penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan pedesaan, serta pengentasan kemiskinan melalui bantuan sosial dan penciptaan lapangan kerja yang terintegrasi.
Upaya tersebut didukung penguatan sektor pertahanan dan keamanan, penegakan hukum, tata kelola pemerintahan, digitalisasi, serta diplomasi ekonomi untuk mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Menurut Purbaya, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tercermin pada indikator makroekonomi, tetapi berdampak pada penciptaan lapangan kerja, penurunan tingkat kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
















































