Yayasan Pustaka Obor Indonesia menerbitkan kembali buku Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia karya Rudolf Mrazek. Buku ini terbit pertama kalinya pada 30 tahun lalu. Penerbitan kembali buku ini untuk mengenalkan dan mengingatkan kembali sosok salah satu pendiri bangsa dengan pemikiran, gagasannya yang dinilai tetap relevan hingga kini.
Ketua Yayasan Pustaka Obor Indonesia Kartini Nurdin mengatakan penerbitan kembali buku ini menjadi momentum penting, terutama untuk generasi muda mengenal Sutan Sjahrir secara utuh. “Penting untuk kalangan muda. Bukan hanya sebagai perdana menteri pertama Republik Indonesia, tetapi juga sebagai pemikir, pejuang dan manusia yang menjadikan kebudayaan, pengetahuan dan kemanusiaan sebagai dasar perjuangan politiknya,” ujar Kartini di kantornya pada 6 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Kartini Sutan Sjahrir atau dipanggil Sjahrir merupakan sosok yang kerap disebut dalam jajaran pendiri bangsa setelah Sukarno dan Muhammad Hatta. Kartini menyebut patut direnungkan kembali pemikiran, gagasan, perjuangan dan pengaruhnya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dalam edisi revisi revisi ini, hadir dengan bahasa yang telah diselaraskan melalui penyuntingan ulang atas terjemahan sebelumnya. Buku terbitan baru ini juga dilengkapi dengan kata pengantar dari Y.B Mangunwijaya yang disampaikan saat peluncuran buku pertama kali pada 1996. Buku ini mengisahkan perjuangan, pengasingan, revolusi hingga integritas yang berpadu dalam nuansa seni, filsafat, intelektual dan politik.
Sutan Sjahrir di meja kerjanya, sekitar tahun 1945. Dok. Wereldmuseum Amsterdam
Putri Sjahrir Tentang Ayahnya
Buku ini juga didiskusikan dengan dua sejarawan Hilmar Farid dan Bonnie Triyana serta putri Sjahrir, Siti Rabyah Parvati atau Upik Sjahrir. Mereka menyoroti relevansi pemikiran dan sosok Sjahrir semasa hidupnya yang dibukukan oleh Rudolf Marzek. Upik Sjahrir memberikan pengantar dari pengalaman masa kecilnya. Perempuan kelahiran 16 Juli 1960 itu masih berusia 6 tahun saat ayahnya wafat pada 9 April 1966 di Zurich, Swiss.
Ia mengatakan tidak punya banyak kenangan tentang ayahnya. Tetapi selama bersama ayahnya, suasananya selalu menyenangkan. “Beliau selalu terlihat bahagia, selalu menunggu kehadiran anak-anaknya terutama ketika sedang di dalam penjara,” ujar Upik Sjahrir.
Ia tidak merasakan kehadiran ayahnya sejak usia dua tahun. Ayahnya sudah ditahan di Madiun pada 1963. Ia juga menyimpan catatan harian ayahnya yang diketik ketika di rumah tahanan. Di catatan itu ia selalu memikirkan anak-anaknya. Upik mengatakan ibunya, selalu kerepotan saat menjenguk ayahnya karena harus mengurus perizinan menjenguk suaminya. Ia dan anak-anaknya harus naik kereta dari Solo ke Madiun.
Kebersamaan dan kebahagiaan sebagai keluarga yang utuh justru dirasakan saat mereka berada di Swiss. Saat itu Sjahrir berstatus sebagai tahanan politik, tengah berobat ke Swiss. Sjahrir selalu menanyakan mengapa ia tidak pernah diadili untuk mengetahui kesalahannya.
Saat itu Sjahrir menjalani perawatan di Swiss, namun kondisinya terus memburuk. Hingga kemudian ia meninggal di sana. “Ayah berangkat berstatus sebagai tahanan politik, namun ketika kembali beliau menjadi pahlawan nasional,” ujarnya. Jenazah ayahnya mendapatkan upacara penghormatan saat tiba di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda.
Upik mengatakan cukup senang dan terharu atas penerbitan kembali buku biografi ayahnya ini. Banyak orang, tidak mengenal ayahnya sebagai pendiri bangsa dan pemikiran-pemikirannya. Bahkan banyak yang salah kaprah mengira ayahnya adalah sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana.
Pilihan Editor:
Jenazah Sutan Sjahrir di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda, akan diterbangkan ke Jakarta untuk upacara pemakaman kenegaraan, 16 April 1966. Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia, meninggal dunia pada 9 April 1966 di Zürich, Swiss, dalam status sebagai tahanan politik rezim Orde Lama. Setelah kematiannya, pemerintah yang sebelumnya menahannya justru menetapkan Sutan Sjahrir sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden. Jenazahnya dipulangkan ke Indonesia dan dimakamkan dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Het Nationaal Archief
Sjahrir Manusia Modern dengan Pemikiran Kritis
Sementara Bonnie mengatakan Sjahrir ini sebagai manusia prototitpe manusia modern, tidak terikat oleh adat, nilai-nilai tradisi dari sisi pemikiran.” Saya melihat Sjahrir, Tan Malaka, Bung karno, Bung Hatta prototipe orang modern Indonesia yang membawa menjadi warga bumi, menjadi orang-orang cosmopolitan yang membawa visi ke yang lebih maju depan dibandingkan zamannya,” ujar Bonnie.
Bonnie juga mengatakan pemikiran Sjahrir sebagai anti fasis. Ia berhasil mematahkan argumentasi orang Belanda bahwa Indonesia adalah boneka negara fasis. Mengutip pemikiran Sjahrir, kolonialisme adalah fasisme pertama yang terbentuk sebelum Nazi hadir. Menurut Bonnie, Sjahrir memperlihatkan bagaimana Belanda yang selalu mengagung agungkan diri melawan fasisme tapi melakukan hal yang sama. Contohnya Belanda menciptakan Boven Digoel sebagai kamp konsentrasi.
Seorang Sjahrir membuktikan masyarakat Indonesia ini merupakan masyarakat multiras. Argumentasi ini dikedepankan untuk menangkal kekerasan kelompok masyarakat Indonesia. Belanda, kata Bonnie sudah menciptakan struktur ini sejak awal hadir di Indonesia.
Sejarawan dan mantan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menyatakan pemikiran-pemikiran Sutan Sjahrir masih sangat relevan hingga saat ini. Meskipun ditulis dalam suasana yang berbeda, namun dengan situasi kini terkait keadaan nasional, geopolitik internasional , pemikiran Sjahrir masih kontekstual.
“Banyak hal dari pemikiran Sjahrir, peran Indonesia sekarang ada resonansinya, untuk membangun Indonesia, mau kemana arahnya,” ujar Hilmar Farid kepada Tempo, 6 Juli 2026.
Buku Sjahrir yang ditulis Mrarek ini, kata Hilmar, adalah biografi yang unik, tidak ditulis secara biasa. Tulisan Mrazek, menurut Hilmar, membantu pembaca untuk memahami sejarah Indonesia lebih kritis. Buku ini juga memperlihatkan pemikiran Sjahrir tidak dikotak-kotakkan, penting untuk melihat perjalanan Sutan Sjahrir secara utuh di masanya.
Rudolf Mrazek Melihat Sjahrir
Dalam pengantar diskusi, dituliskan buku karya Rudolf Mrazek ini menolak menjadikan dia sebagai pahlawan atau menghakimi Sjahrir sebagai orang gagal. Mrazek dalam pengantarnya menjelaskan karyanya lebih tentang pengasingan ketimbang sekolah, yang jauh lebih penting tentang integitas ketimbang sekolah. Bukan kalimat sekadar gaya bahasa tetapi kunci untuk memahami buku yang terbit tiga dekade ini, masih terasa hidup dibaca hingga kini.
Mrazek tidak bertanya tentang siapa Sjahrir tapi bertanya bagiamana Sjahrir mengalami dunianya. Alih-alih menyusun daftar pencapaiannya dan kronologi politik, Mrazek membaca Sjahrir melalui surat-surat pribadinya, esai, pidato bahakan lewat cara orang-orang di sekelilingnya mengingat gerak Gerik dan cara bicaranya.
Ia mempercayai setiap kali seseorang menulis tentang politik, ekonomi, perempuan atau puisi, sesungguhnya ia sedang menulis semacan biografi yang dibaca dari jarak jauh. Cara membaca seperti ini mempunyai daya tarik kuat karena ia membuka sisi Sjahrir yang tak pernah tertangkap oleh biografi politik konvensional.
Mrazek menulis momen-momen penting hidup Sjahrir sejak ia dalam pergulatan perjuangan melawan kolonialisme, saat jelang kemerdekaan dan setelah kemerdekaan. Ia meramunya dengan unik dan membuat pembaca melihat figur Sjahrir sebagai figur diagnostik dengan segala kelemahannya menyingkap kelemahan demokrasi intelektual dalam politik Indonesia secara lebih luas.
Pilihan Editor:
















































