PENYANYI multi talenta Trie Utami kembali terlibat dalam garapan album terbaru Nyanyian Dharma. Kelompok ini meluncurkan mini albumnya di Ruang Taksu, Gedung Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, pada Ahad, 19 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Malam ini sangat spesial karena ada kanvas kosong yang akan dihidupkan bersama,” ujar Trie Utami, yang akrab disapa Mba Iie, saat pembukaan acara.
Dua kanvas besar yang dimaksudnya telah dipasang di sisi kiri dan kanan panggung. Sepanjang pementasan berlangsung, kedua kanvas tersebut diisi secara langsung oleh perupa Apel Hendrawan dan Mangku Bonus, menghadirkan respons visual terhadap musik yang dimainkan.
Trie Utami, yang bergabung sejak 2006, menyebut keterlibatannya sebagai perjalanan menemukan ruang yang terasa dekat secara personal. “Kadang hidup menemukan jalannya sendiri. Dan di sini saya merasa jalan kembali pulang, bertemu saudara,” ujarnya.
Dedikasi karya bersama Nyanyian Dharma digagas oleh Dewa Budjana sejak 1997. Dalam pementasan ini, formasi yang tampil terdiri dari Dewa Budjana (gitar), Trie Utami (vokal), IB Wicaksana, Gde Kurniawan, Agung Ocha (vokal), Rico Mantrawan (keyboard), Doddy Sambodo (bass), serta Deny Surya (drum).
Dewa Budjana menyampaikan bahwa Nyanyian Dharma berangkat dari keresahan sederhana. Ia menyinggung bagaimana setiap momen Lebaran selalu diwarnai lagu-lagu religi yang kuat di satu wilayah, sementara di Bali belum memiliki ruang musikal serupa. Dari situ, Nyanyian Dharma lahir sebagai bentuk pencarian sekaligus pernyataan musikal.
Pertunjukan ini sekaligus memperkenalkan mini album Idep, yang memuat lima komposisi baru: "Kidung Nusantara", "Tumpek Wariga", "Ibu Pertiwi Lara", "Catur Kanda", dan "Mulat Sarira". Sejumlah materi disebut lahir dari proses kreatif bersama di kawasan Ceto.
Istilah "idep", yang berarti pikiran atau kesadaran, menjadi benang merah dari karya yang dibawakan. Dalam konteks pertunjukan, idep dimaknai sebagai kesadaran yang membawa para pelaku dan penonton berkumpul dalam satu ruang pengalaman.
Hal tersebut juga tampak dalam perkembangan lukisan di atas kanvas sepanjang pertunjukan. Simbol-simbol seperti lingga, trisula, dan kepala manusia yang muncul dalam gurat lukisan dimaknai sebagai representasi ketajaman pikiran sekaligus upaya menjaga keseimbangan.

















































