Tumbal Proyek Padukan Horor dan Drama Keluarga

8 hours ago 14

FILM Tumbal Proyek hadir sebagai horor thriller yang tidak hanya menawarkan teror supranatural dan misteri, tetapi juga membawa drama keluarga yang emosional. Lewat kisah tentang duka, penantian panjang, dan hubungan orang tua dengan anak, Tumbal Proyek mencoba menghadirkan horor yang terasa dekat dengan realitas sehari-hari.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Cerita berpusat pada Yuda, karakter yang diperankan Kiesha Alvaro, yang hidup dalam bayang-bayang hilangnya sang ayah, Bayu, diperankan Rendy Khrisna. Bayu menghilang secara misterius saat bekerja di sebuah proyek pembangunan di Jawa Timur.

Kepergian Bayu meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya. Penantian tanpa kepastian membuat Yuda terus mencari jawaban atas hilangnya sang ayah. Namun pencarian tersebut justru menyeretnya pada berbagai rahasia kelam yang tersembunyi di balik proyek tersebut.

Kehadiran Laras, karakter yang diperankan Callista Arum, turut memperkuat perjalanan emosional Yuda. Keduanya perlahan masuk ke dalam situasi yang semakin mencekam ketika berbagai kejadian janggal mulai bermunculan.

Horor yang Menekan dan Penuh Misteri


Sepanjang film, suasana mencekam dibangun lewat area proyek di Jawa Timur yang menyimpan sisi gelap dan penuh misteri. Proyek tersebut tidak hanya menjadi latar cerita, tetapi juga terasa seperti ruang yang menyimpan sesuatu yang selama ini dikubur rapat.

Teror dihadirkan lewat lorong proyek yang sunyi, kemunculan sosok misterius, hingga rasa cemas yang terus dibangun perlahan tanpa terlalu bergantung pada jumpscare. Ketegangan dijaga melalui rahasia demi rahasia yang mulai terungkap seiring perjalanan cerita.

Secara atmosfer, Tumbal Proyek bermain pada tekanan psikologis yang cukup intens. Beberapa adegan terasa menekan dan membuat penonton menahan napas dalam diam. Film ini juga berani memainkan kesunyian untuk membangun rasa takut, alih-alih terus-menerus mengandalkan kemunculan hantu.

Meski demikian, kekuatan utama film ini justru terletak pada lapisan drama keluarganya. Konflik tentang kehilangan, rasa bersalah, dan hubungan antara orang tua dan anak menjadi inti emosional yang menjaga cerita tetap hidup di tengah teror yang terus muncul.

Penampilan Karina Suwandi sebagai Bu Marta menjadi salah satu elemen yang memperkuat sisi emosional film. Sosok ibu yang terus menunggu kepulangan suaminya menghadirkan rasa kehilangan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pendekatan tersebut juga menjadi alasan rumah produksi Dee Company mengangkat cerita tentang tumbal proyek ke layar lebar. “Beberapa bulan lalu kami berdiskusi untuk mengangkat cerita yang terinspirasi dari kisah yang sering kita dengar, yaitu tentang tumbal proyek. Tentang orang-orang yang hilang tanpa jawaban dan tanpa kabar,” ujar produser Dheeraj Kalwani dalam konferensi pers pada Kamis, 7 Mei 2026.

Menurut Dheeraj, Tumbal Proyek tidak hanya ingin menghadirkan ketakutan, tetapi juga membawa penonton masuk ke dalam cerita keluarga yang kehilangan seseorang tanpa penjelasan.

Sementara itu, sutradara Jeropoint mengaku senang melihat respons penonton saat pertama kali menyaksikan film tersebut. “Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi saya selain melihat kalian menikmati film ini,” kata Jeropoint.

Kiesha Alvaro Bangun Emosi Kehilangan Lewat Diskusi Panjang


Dalam film ini, Kiesha Alvaro memerankan Yuda, sosok anak yang terus dihantui kehilangan sang ayah. Kiesha mengaku banyak berdiskusi dengan Jeropoint sejak awal untuk memahami emosi karakter yang dimainkan.

“Sebelum saya pegang naskah, saya langsung ngobrol sama Bang Jero tentang apa yang diinginkan dari karakter Yuda dan pesan yang ingin disampaikan,” ujar Kiesha.

Ia mengatakan proses reading membantunya memahami emosi kehilangan yang dialami Yuda. Kiesha juga menyebut salah satu adegan yang paling membekas selama syuting adalah adegan kesurupan massal. “Itu syutingnya di akhir jadwal saat semua sudah capek. Makeup effect dan prostetiknya bagus banget sampai terasa nyata. Bahkan buat saya pribadi cukup mengganggu pikiran,” katanya.

Callista Arum Belajar Doa Katolik dan Dialek Jawa


Callista Arum yang memerankan Laras mengungkapkan dirinya harus melakukan sejumlah persiapan khusus demi mendalami karakter. “Tantangannya belajar doa-doa Katolik dan dialek Jawa. Untungnya ada kru yang membantu,” ujar Callista.

Ia mengatakan suasana lokasi syuting menjadi salah satu hal yang membuat pengalaman bermain di film ini terasa berbeda. “Ada beberapa adegan yang rasa takutnya benar-benar nyata, bukan acting,” katanya. Callista menambahkan adegan kesurupan Laras menjadi salah satu momen paling membekas selama proses produksi berlangsung.

Sementara, Karina Suwandi mengungkapkan dirinya membangun chemistry dengan para pemain muda sejak proses reading berlangsung. Ia banyak berdiskusi dengan Jeropoint untuk memahami karakter Bu Marta sebagai sosok ibu yang hidup dalam kehilangan dan penantian.

“Saya dan anak-anak banyak ngobrol sejak reading supaya chemistry-nya terbentuk. Bahkan sebelum take kami sering pegangan tangan dulu untuk membangun emosinya bersama,” ujar Karina. Menurutnya, hubungan yang terbangun selama proses produksi membuat dinamika keluarga di dalam film terasa lebih natural.

Dengan balutan thriller yang intens dan atmosfer yang menekan, Tumbal Proyek membawa isu kehilangan dan penantian keluarga ke dalam cerita yang terasa dekat dengan penonton. Hasilnya, film ini diharapkan bukan hanya menghadirkan rasa takut selama ditonton, tetapi juga meninggalkan emosi yang membekas setelah film berakhir.

Tumbal Proyek tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai Rabu, 13 Mei 2026.

GHAEIZA KAY RASUFFI

Read Entire Article
Parenting |