Yogyakarta Renovasi 200 Rumah Tak Layak tanpa APBN dan APBD

12 hours ago 1

WALI Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyatakan masih akan melanjutkan program renovasi atau perbaikan Rumah Tak Layak Huni (RTLH) yang menyasar warga miskin pada 2026 ini.

Hasto mengatakan, program renovasi yang sudah dimulai sejak 2025 itu masih menggunakan skema sama, yakni tak akan menyentuh dana dari APBD maupun APBN. "Kami masih lanjutkan program itu tahun ini dengan skema gotong royong, bukan dari APBD maupun APBN," kata Hasto, Rabu, 15 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Mantan Bupati Kulon Progo dua periode itu mengatakan, skema gotong royong yang dimaksud dengan menghimpun dana dan bantuan material dari berbagai pihak swasta melalui program kontribusi tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Misalnya menggandeng Real Estate Indonesia (REI) setempat dalam wujud bantuan Rp 20 juta untuk setiap unit rumah yang disasar.

Selain itu, ada juga patungan perseoramgan dan lembaga dalam bentuk donasi material. Hasto misalnya turut donasi 30 sak semen. Ada juga donasi semen dari lingkungan organisasi perangkat daerah.

Hasto menuturkan prioritas utama perbaikan ini hunian warga yang berada dalam kondisi tidak sehat dan tidak layak, khususnya yang menjadi tempat tinggal bagi kelompok rentan.

Kondisi rumah yang dinilai tidak memenuhi syarat misalnya ketika dalam rumah warga itu area dapur, kamar, hingga WC menyatu dalam satu ruang. Padahal di dalamnya terdapat anak kecil yang masih menempuh pendidikan sekolah. 

"Jadi skema renovasi ini tidak memakai APBD maupun APBN agar mampu menjadi solusi bagi rumah-rumah yang tanahnya masih terkendala masalah administrasi lahan," kata Hasto. "Kadang tanah yang dihuni itu belum jelas secara administrasi. Tapi dengan gotong royong, ini tetap bisa diselesaikan."

Skema ini, kata Hasto, telah terbukti berjalan lancar pada tahun 2025 dengan capaian 82 rumah yang berhasil diperbaiki. "Jadi kami optimistis tahun 2026 ini bisa melipatgandakan sasarannya menjadi 200 rumah tak layak huni." 

Ia membeberkan, renovasi rumah melalui pola gotong royong ini untuk dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sementara itu, Partini, 70 tahun, warga Wirogunan Yogyakarta yang rumahnya terpilih mendapatkan bantuan renovasi mengaku bersyukur.

Lansia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga sekaligus pedagang kecil ini mengaku telah menempati hunian tersebut sejak lahir dan seringkali harus menghadapi bencana banjir karena lokasi yang berdekatan dengan sungai. 

"Alhamdulillah, senang sekali rumah mau diperbaiki, saya tinggal di sini dari kecil, sering kebanjiran juga," kata Partini yang sehari-hari tinggal bersama anak dan cucunya itu, Selasa.

Read Entire Article
Parenting |