AMERIKA Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Kamis, 10 Juli, dan mengancam gencatan senjata sementara yang sebelumnya diupayakan untuk meredakan perang di Timur Tengah.
Menurut laporan France24, militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru ke Iran pada Kamis dini hari.
Teheran membalas dengan menargetkan kepentingan Amerika Serikat di kawasan, termasuk melalui serangan ke Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania.
Sirene peringatan berbunyi sedikitnya tiga kali di Bahrain yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, sementara rudal juga diarahkan ke Kuwait dan Qatar.
Militer Kuwait menyatakan serpihan rudal melukai satu orang setelah negara itu mencegat tiga rudal balistik, satu rudal jelajah, dan 10 drone. Bahrain dan Yordania juga mengaku berhasil mengintersepsi seluruh serangan yang masuk. Belum ada laporan kerusakan di Qatar.
AS Klaim Serang 90 Target
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah menyerang 90 target di Iran, termasuk landasan pacu bandara dan peluncur rudal. Washington menyebut operasi itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.
Serangan dilakukan beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding serangan Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz mengakhiri gencatan senjata yang rapuh.
“Ini adalah balasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, konsekuensinya akan jauh lebih buruk!” tulis Trump melalui media sosialnya.
Di Iran, Kementerian Kesehatan melaporkan sedikitnya 14 orang tewas dan 78 lainnya terluka akibat dua hari serangan udara Amerika Serikat. Media pemerintah Iran juga melaporkan ledakan di Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir Iran.
Upaya Mediasi Berlanjut
Dilansir Arab News, Pakistan, Qatar bersama sejumlah mediator regional terus mengupayakan deeskalasi dan menghidupkan kembali perundingan nuklir antara Washington dan Teheran. Mengutip Axios, seorang sumber yang terlibat dalam mediasi mengatakan, “Ada upaya diplomatik yang intensif untuk terlebih dahulu menyepakati deeskalasi dengan kedua pihak, kemudian menetapkan jadwal putaran baru perundingan antara tim teknis.”
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menuduh Amerika Serikat melanggar Islamabad Memorandum of Understanding (nota kesepahaman) yang dimediasi Pakistan.
Pilihan Editor: Janji Palsu Amerika dalam Pemakaman Ali Khamenei
















































