Bagaimana Perubahan Pola Filantropi di Asia

2 hours ago 5

DALAM beberapa waktu terakhir, terjadi perubahan pola filantropi. Menurut Chairman Philanthropy Asian Alliance Edmund Koh, jika sebelumnya sejumlah orang yang kemudian menjadi filantropis hanya bertanya cara berdonasi, kini mereka meminta penjelasan bagaimana sumbangannya berdampak besar bagi masyarakat luas.

"Dalam percakapan saya dengan family office dan klien pengelola kekayaan di berbagai negara di kawasan ini selama setahun terakhir, saya melihat sesuatu yang menarik. Semakin banyak dari mereka yang tidak lagi bertanya apakah harus memberi, melainkan bagaimana memberi secara berdampak dan dalam skala besar," kata Edmund saat membuka Philanthropy Asia Summit 2026 di Singapura pada Senin, 18 Mei 2026. "Perubahan ini terjadi dengan kecepatan yang belum pernah saya lihat selama tiga dekade saya bekerja di dunia perbankan."

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Edmund, saat ini muncul dorongan yang kuat di kalangan filantropis untuk berperan lebih jauh lewat cara dan pendekatan sendiri. Namun demikian, kata dia, sulit bagi organisasi atau sumber pendanaan dapat menjawab berbagi tantangan sendirian. "Peluang sesungguhnya terletak pada bagaimana kita menyatukan modal, keahlian, dan niat," ujarnya.

Edmund mengatakan, tantangan saat ini tidak lagi terkotak-kotak berdasarkan negara. Perubahan iklim, kesehatan, dan ketahanan pangan dialami bersama-sama oleh banyak negara di dunia, khususnya di Asia.

Dia mencontohkan, krisis minyak dan gas hari-hari ini mengungkap perlunya inovasi energi bersih. Sementara itu, Bangladesh, Vietnam, dan Filipina yang memiliki populasi besar di wilayah pesisir, menghadapi risiko kenaikan permukaan laut serta banjir yang kian sering terjadi.

Menurut dia, enam juta orang di kawasan Asia-Pasifik berisiko dilanda rob setiap tahunnya, dengan kerugian ekonomi tahunan mencapai US$ 26,8 miliar atau Rp 473,4 triliun dalam kurs saat ini. "Apa yang kita pelajari dari hal tersebut sangat sederhana: tidak ada satu sektor pun, dan tidak ada solusi tunggal, yang dapat mengatasi berbagai tantangan ini sendirian," katanya.

Dia mengatakan pendanaan jangka panjang dari para filantropis berperan dalam menginisiasi langkah untuk menghadapi berbagai persoalan tersebut. Inisiatif Philanthropy Asia Alliance menyerap risiko tahap awal dan menggagas konsep yang dapat diikuti pihak lain yang peduli.

Philanthropy Asia Alliance adalah inisiatif nirlaba yang dicetuskan oleh Temasek Trust untuk mendorong filantropi yang kolaboratif di Asia. Sejak diluncurkan pada 2023, aliansi menghimpun 110 mitra dan mengumpulkan US$ 615 juta (setara Rp 10,9 triliun) pada lebih dari 300 proyek. Selain Temasek Trust, anggota meliputi Gates Foundation, Google.org, Dalio Philanthropies, The Rockerfeller Foundation, hingga Sergey Brin Family Foundation. Dari Indonesia, di antaranya Sinarmas, Tanoto Foundation, dan Triputro Argo Persada.

Riset Terbaru

Dalam Philanthropy Asia Summit ke-6 itu, Centre for Asian Philanthropy and Society (CAPS) merilis laporan berjudul Philanthropy as Risk Capital in Asia: Bridging Innovation to Impact. Laporan disusun berdasarkan penelitian pada Oktober 2025 hingga Januari 2026 melalui wawancara mendalam serta kajian literatur akademik dan non-akademik. Kasus yang diteliti mencakup Agros, BillionBricks, Equatic, Haqdarshak, Inspro, Seven Clean Seas, Urban Spring, Wadhwani AI, Wateroam, dan World Mosquito Programme di Yogyakarta.

Penelitian tersebut menelaah bagaimana filantropi di Asia berfungsi sebagai modal risiko dan potensinya dalam menjawab tantangan pembangunan dalam skala besar. Kajian juga membahas alasan para donatur mengambil risiko, cara penyaluran modal di berbagai tahap inovasi, serta strategi pengelolaan risiko untuk memperbesar dampak.

Salah satu temuan utama laporan adalah kecenderungan filantropi di Asia untuk memberikan pendanaan jangka panjang berbasis keyakinan terhadap solusi yang didukung. Pendanaan yang besar dan panjang banyak berasal dari individu dan keluarga yang memiliki pengalaman langsung terhadap persoalan yang ingin mereka atasi.

Sebagai contoh, The Tahija Foundation di Indonesia disebut memberikan lebih dari US$17 juta selama 10 tahun untuk menguji pendekatan baru pengendalian demam berdarah menggunakan bakteri Wolbachia. Uji coba terkontrol secara acak menunjukkan penurunan penularan dengue sebesar 77 persen. Metode tersebut kemudian diadopsi dalam rencana kesehatan nasional Indonesia dan disebut telah melindungi sekitar 14 juta orang.

Laporan itu juga mencatat para penyandang dana mulai mencoba berbagai instrumen pendanaan selain hibah konvensional, mulai dari pinjaman lunak hingga investasi ekuitas. Namun, keterbatasan pengetahuan dan hambatan regulasi di sejumlah negara masih menjadi kendala penerapan yang lebih luas. “Bagi para filantropis di Asia yang mendukung inovasi tahap awal, kepercayaan terhadap kemampuan orang-orang di balik gagasan menjadi faktor penting dalam mengelola risiko,” kata Co-Founder dan CEO CAPS, Ruth Shapiro.

CEO Philanthropy Asia Alliance Shaun Seow mengatakan modal filantropi tahap awal berperan menyerap risiko dari solusi yang belum teruji dan membantu membangun bukti serta kepercayaan untuk membentuk regulasi yang dibutuhkan bagi investasi berikutnya.

Read Entire Article
Parenting |