MASSA dari aliansi mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) masih tertahan oleh polisi di kawasan Semanggi dan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat, 12 Juni 2026. Mereka berencana menggelar aksi Menuju Indonesia Bangkrut di Bundaran HI pada Jumat siang ini.
Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan mengatakan, lebih dari 1.000 mahasiswa akan mengikuti demonstrasi tersebut. Massa diberangkatkan dari Kampus UI, Depok, menggunakan sejumlah bus yang dibagi dalam 16 kloter.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Namun, aparat kepolisian tidak mengizinkan aksi digelar di Bundaran HI dan meminta mahasiswa memusatkan demonstrasi di depan Gedung DPR. Mahasiswa menolak arahan tersebut. "Kami masih berupaya agar aksi tetap bisa dilakukan di Bundaran HI," kata Yatalathof di kawasan Bundaran HI, Jumat, 12 Juni 2026.
Menurut dia, pemilihan Bundaran HI sebagai lokasi aksi merupakan simbol ketidakpercayaan mahasiswa terhadap pemerintah. Karena itu, mereka sengaja tidak memilih Istana Kepresidenan sebagai titik demonstrasi.
Aliansi mahasiswa juga menolak berunjuk rasa di DPR. Yatalathof menilai penyampaian aspirasi kepada DPR tidak akan mengubah keadaan. Sebab, DPR saat ini lebih merepresentasikan kepentingan pemerintah ketimbang masyarakat. "Sekarang mereka hanya menjadi loket administrasi dari eksekutif," ujarnya.
Hingga siang hari, massa mahasiswa dilaporkan berjalan kaki dari kawasan Semanggi dan Senayan menuju Bundaran HI. Mereka tetap berupaya menggelar aksi di lokasi tersebut.
Tempo telah menghubungi Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Budi Hermanto, untuk meminta tanggapan. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada respons.
Sebelumnya, Yatalathof menyebut sejumlah organisasi yang menyatakan akan bergabung dalam aksi antara lain BEM se-UI (BEM UI dan 15 BEM fakultas), BEM KM IPB, BEM PNJ, BEM Universitas Pancasila, Aliansi BEM Gunadarma, FMN Pusat, FMN UI, Pembebasan, dan Semar UI. "Beberapa organisasi dan simpul pergerakan yang mengikuti konsolidasi nasional di Kampus UI kemarin masih akan memastikan kehadiran dan jumlah massa dalam rapat malam ini," kata Yatalathof.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima tuntutan utama, yakni menghentikan pemborosan APBN, menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM, menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), membatalkan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih, serta menghentikan militerisme di ranah sipil. Selain itu, mereka juga mendesak Presiden Prabowo untuk mengakui kesalahan pemerintah.


















































