Cara Gunungkidul Libatkan Perempuan Merawat Budaya

3 hours ago 4

INFO CANTIKA.COM -  Di Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Yogyakarta, ruang keterlibatan perempuan salah satunya sejalan dengan upaya pemerintah menjaga budaya dan tradisi daerah. Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih mengatakan kebudayaan menjadi bagian penting dalam pembangunan Gunungkidul karena tradisi masih hidup hingga tingkat padukuhan. “Alhamdulillah, di Gunungkidul, peradaban dan budaya ini kami kedepankan. Di tingkat padukuhan, setiap tahun ada ritual budaya masing-masing,” kata dia pada 17 September 2026 di Jakarta.

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih meraih Apresiasi Swara Cantika 2026 di bidang Pelestarian Budaya dan Tradisi Kategori Pelopor & Penggerak Ruang Publik. Penghargaan yang diberikan pada 17 September 2026 di Ballroom Samisara, Jakarta, ini bertujuan untuk mengapresiasi para pemimpin perempuan di ranah publik yang berani membuka akses pendidikan, kesehatan, dan pemulihan lingkungan demi kesejahteraan warga.

"Luar biasa, terima kasih dan apresiasi dan penghargaan setinggi tingginya untuk Cantika karena telah memberikan ruang untuk para perempuan, seperti perempuan penggerak dan perempuan yang memiliki keberanian dan keteguhan dan kesabaran dan perempuan yang sering kontemplasi. Harapannya, Apresiasi Swara Cantika bisa dipertahankan ke depan sebagai ruang bagi perempuan, buat berkompetisi, dan memberikan yang terbaik buat bangsa Indonesia," kata Endah. 

Endah dan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul memang menjadikan budaya berbasis masyarakat sebagai salah satu pendekatan pelestarian. Berbagai tradisi masih digelar masyarakat di tingkat padukuhan dan kalurahan sepanjang 2026, antara lain Bersih Desa atau Rasulan, Sedekah Bumi, Nyadran, hingga Grebeg Besar. Dalam sejumlah kegiatan tersebut, pemerintah daerah hadir bersama masyarakat untuk menjaga keberlanjutan tradisi.

Endah mengatakan posisi Gunungkidul sebagai bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta juga membuat pelestarian kebudayaan menjadi tanggung jawab yang harus dijaga bersama. Ia menyinggung sejarah Mataram dan perjalanan kebudayaan yang menjadi bagian dari identitas Yogyakarta. Endah menyinggung soal adalah Ki Ageng Pemanahan yang merupakan leluhur atau pengawal awal dinasti Mataram yang kemudian melahirkan raja-raja Mataram. Kerajaan Mataram Islam sendiri menjadi salah satu akar sejarah Yogyakarta. “Dengan adanya Ki Ageng Pamanahan dan melahirkan Raja Mataram, dan sebagai tonggak DIY menjadi daerah istimewa. Jadi kami memiliki kewajiban untuk menjaga, melestarikan dan merawat,” ujar Endah.

Namun, pelestarian budaya menurut Endah bukan sekadar mempertahankan ritual sebagai acara tahunan. Masyarakat perlu tetap menjadi bagian dari tradisi tersebut. “Merawat dan menjadi pelaku budaya itu sendiri,” kata Endah.

Pendekatan tersebut terlihat dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul yang menempatkan pengembangan ragam budaya berbasis pemberdayaan masyarakat sebagai bagian dari arah pembangunan kebudayaan. Artinya, masyarakat bukan hanya menjadi penonton kegiatan budaya, tetapi dilibatkan sebagai pelaku yang menjaga keberlangsungannya.

Keterlibatan perempuan menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Pada Maret 2026, Endah bertemu dengan perwakilan 24 organisasi perempuan di Gunungkidul. Pemerintah daerah menyebut organisasi perempuan memiliki peran penting dalam pemberdayaan perempuan dan peningkatan kesejahteraan keluarga.

Di tingkat masyarakat, tradisi juga terus berjalan. Misalnya, warga Padukuhan Karangnongko dan Guyangan menggelar Bersih Dusun atau Rasulan pada Mei 2026. Di Ngawen, masyarakat menggelar Grebeg Besar Gunung Wijil. Sementara di Ngalang, tradisi Nyadran Gunung Gentong kembali dilaksanakan sebagai warisan budaya yang telah berlangsung turun-temurun. Bagi Endah, pola seperti ini penting agar budaya tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Perempuan, laki-laki, generasi muda, komunitas dan pemerintah memiliki ruang untuk menjadi bagian dari keberlanjutan tradisi.

Komitmen tersebut pula yang menjadi salah satu alasan Endah menerima Apresiasi Swara Cantika 2026 kategori Pelopor dan Penggerak Ruang Publik bidang Pelestarian Budaya dan Tradisi. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menyebut komitmen tersebut antara lain diwujudkan dengan membuka ruang bagi seniman lokal dan memperkuat regenerasi seni tradisi sejak dini. Pelestarian dilakukan melalui kolaborasi pemerintah daerah, komunitas dan masyarakat.

Dalam konteks itu, pemberdayaan perempuan dan pelestarian budaya memiliki titik temu, yaitu memberikan ruang kepada perempuan untuk hadir, mengambil keputusan, dan menjadi pelaku di tengah masyarakat. Endah pun mengingatkan bahwa perempuan tidak harus menunggu mendapatkan posisi formal untuk mulai berkontribusi. Ruang untuk berperan dapat dimulai dari lingkungan paling dekat—keluarga, komunitas, pasar, organisasi masyarakat hingga kegiatan budaya di tingkat padukuhan. “Semoga bisa mendorong perempuan untuk terjun ke dunia politik,” kata Endah. 

Bagi dia, politik dalam pengertian luas adalah keberanian perempuan untuk hadir dan berperan dalam kehidupan bersama. "Politik itu tidak hanya mengikuti partai politik. Ternyata soal kehidupan sehari-hari juga politik. Seperti soal membeli beras, membeli sembako, dengan tawar-menawar, dialog dan negosiasi di pasar. Itu juga kehidupan politik," katanya. (*)

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Parenting |