Eksplorasi Gamelan di Festival Gamelan Kontemporer 2026

1 week ago 16

Jakarta Contemporary Gamelan Festival (JCGF) 2026 akan kembali berlangsung pada 11 -12 Juli 2026 mendatang di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pada festival kali ini akan menampilkan beberapa kelompok musisi gamelan kontemporer dari Jakarta dan kota-kota lain. Festival gamelan kontemporer ini juga menjadi bagian peringatan 100 Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta era 1970-an.

Festival kali ini akan menampilkan Ensemble Kyai Fatahillah- Iwan Gunawan (Bandung), Indonesian Contemporary Gamelan Festival (Jakarta), Kumpulan Bunyi Sunya (Jakarta), Nata Swara (Bali), Pesniauan Adat Osing (Banyuwangi), Tunas Pusaka Ipang Putra (Jakarta). Festival kali ini menampilkan pertunjukan musik dan diskusi publik, dengan tema “Homage to Gamelan”, mengangkat keberagaman bentuk, pendekatan, dan visi musikal yang muncul dari praktik gamelan saat ini.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Direktur Festival Peter Szilagyi mengatakan JCGF ini memperkuat posisinya sebagai platform yang mendorong dialog, kolaborasi, dan penciptaan karya-karya baru yang terbuka terhadap berbagai kemungkinan artistik masa kini. Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan semakin luasnya jejaring budaya global, gamelan menunjukkan kemampuannya untuk terus bertransformasi tanpa kehilangan akar budayanya.

“Bukan hanya sebagai warisan budaya, gamelan hadir sebagai praktik hidup yang senantiasa berkembang melalui pembacaan ulang, eksperimen artistik, serta interaksi dengan berbagai disiplin ilmu dan budaya,” ujarnya dalam konferensi pers, 4 Juli 2026 di Gedung Trisno Sumardjo, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lebih lanjut Arham Riyadi, kurator festival mengatakan Jakarta, sebagai kota yang menjadi titik temu beragam identitas, menjadi ruang yang strategis bagi lahirnya gagasan-gagasan baru tentang gamelan. Festival ini menghadirkan berbagai bentuk presentasi, mulai dari pertunjukan musik, diskusi, lokakarya, hingga program edukasi yang mempertemukan pelaku seni dari berbagai latar belakang dan generasi.

“Jakarta Contemporary Gamelan Festival tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, tetapi juga ruang refleksi mengenai bagaimana gamelan dapat terus berkontribusi dalam menjawab tantangan zaman," ujar Arham.

Baik Arham dan Szilagyi mengharapkan penyelenggaraan JCGF dapat memperluas jejaring kolaborasi, memperkuat ekosistem seni pertunjukan, serta membuka ruang dialog antara Komposer. Festival ini juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan praktik gamelan Indonesia kepada publik yang lebih luas, sekaligus mendorong lahirnya generasi baru yang aktif mengembangkan musik tradisi dalam konteks kontemporer.

Gamelan kontemporer sebagai bentuk artistik kini tidak lagi sepenuhnya terikat pada akar budaya etnis tertentu. Gamelan telah menjadi medium ekspresi musikal yang terbuka dan melampaui batas-batas etnis maupun geografis.

Gamelan Ajeng dan 100 Tahun Ali Sadikin

JCGF juga akan menjadi bagian dalam rangkaian acara memperingati “100 Tahun Ali Sadikin” yang diselenggarakan dari tanggal 1 Juli sampai dengan 15 Juli 2026 di kawasan Taman Ismail Marzuki dan Institut Kesenian Jakarta oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Unit Pengelola Taman Ismail Marzuki atau Badan Layanan Unit Daerah DKI Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Institut Kesenian Jakarta. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin selama hidupnya memiliki perhatian pada pelestarian budaya Betawi.

Sejalan dengan itu, JCGF 2026 ini juga kembali menyoroti Gamelan Ajeng Betawi, salah satu bentuk gamelan khas yang berkembang di Jakarta dan sekitarnya. Selama ini, Gamelan Ajeng belum banyak dikenal oleh masyarakat Jakarta sendiri, baik dalam bentuk tradisinya maupun potensi artistiknya. Mereka akan menampilkan kelompok Gamelan Ajeng Betawi Tunas Pusaka Ipang Putra.

Dalam perkembangan musik gamelan kontemporer pun, Gamelan Ajeng nyaris tak mendapatkan ruang eksplorasi yang memadai. “Padahal, Gamelan Ajeng menyimpan kekayaan sejarah, struktur musikal, dan karakter bunyi yang sangat khas. Nanti akan kami hadirkan lagi sebagai inspirasi bagi penciptaan karya musik baru,” ujar Arham.

Komponis Iwan Gunawan wafat di Belanda, 16 Maret 2026. (Dok.UPI)

Tribute untuk Iwan Gunawan

Tahun ini Indonesia dan Masyarakat Seni Gamelan kehilangan satu tokoh, sosok yang berpengaruh dalam dunia gamelan kontemporer, yaitu Dr Iwan Gunawan, pendiri dan composer Kyai Fatahillah Ensemble, Bandung. Iwan meninggal beberapa bulan lalu saat ia pentas di Belanda.

Szilagyi mengatakan pada edisi kali ini, mereka juga akan menggelar konser tribute untuk Iwan Gunawan. “Akan didahului dengan bincang seni tentang karya-karya beliau, dilanjutkan dengan konser,” ujarnya.

Read Entire Article
Parenting |