Film Teman Tegar: Maira Whisper from Papua, Bawa Pesan Hutan Generasi Masa Depan

1 day ago 1

CANTIKA.COMJakarta - Jika kalian pernah menonton film Tegar pada tahun 2022, film independen karya Aksa Bhumi Langit ini membawa isu inklusifitas. Lalu tahun ini Aksa Bhumi Langit kembali membawakan judul baru Teman Tegar, Maira Whisper from Papua, yang disutradarai oleh Anggi Frisca, sang founder sendiri. Ia terinspirasi dari keelokan hutan tanah Papua yang penuh keindahan dan keragaman hayati. Sehingga sayang untuk tidak dapat dinikmati oleh para generasi muda selanjutnya.

Berawal dari film Tegar, perempuan pemilik Bhumi Aksa memang sudah mendesain akan membuat tokoh asal Papua. Akhirmya Anggi memilih Papua dengan menjadikannya cerita di film sebagai hutan yang akan dihanguskan oleh bos besar dan pasukannya karena para warga yang tertipu saat penandatanganan persetujuan. 

Selain itu, alasan memilih Papua dalam film ini adalah karena banyak hal menarik yang belum semua orang tahu. Anggi mengaku ia adalah orang yang sering bolak balik ke Papua. “Termasuk sering saya ke Papua seperti papua pegunungan, pesisir, jadi ya saya paham betul,” jelasnya.

Hal menarik menurut Anggi dalam proses syuting ini adalah ia pertama kali melihat suatu suku yang memiliki ciri kulit kayu berwarna putih. Dan suku itu bernama  Suku Mairas. Oleh karena itu, Anggi menggunakan nama Maira untuk dijadikan tokoh utama dalam film ini. “Iya saya terinspirasi dari nama suku ini, tapi filmnya tidak menceritakan tentang Suku Mairas,” tuturnya. Film ini berisi semi musikal juga karena suku asli tempat syuting mayoritas buta huruf akan tetapi tidak buta nada. Anak-anak dan masyarakatnya memiliki suara yang indah, kata Anggi.

Para pemain dan sutradara film “Teman Tegar: Maira ‘Whisper From Papua’”, M. Aldifi Tegarajasa (tengah), Elisabeth Sisauta (kiri), dan Anggi Frisca, ketika berkunjung ke kantor Tempo, Jakarta, 7 Januari 2026. Kehadiran mereka untuk berdiskusi dengan redaksi Tempo sekaligus mempromosikan film yang akan tayang di bioskop pada Februari 2026 tersebut. Tempo/Agung Chandra

Proses Keseruan Syuting

Dalam proses syutingnya film Maira menghabiskan waktu syuting selama 30 hari penuh di Papua, lalu membuat pelatihan khusus untuk tokoh utama selama 3 bulan. Perjuangan untuk berkenalan dengan suku asli di Papua diawali Anggi dan tim dengan membawa peralatan medis untuk menggali percakapan dan informasi penting serta meminta izin untuk proyek film ini. Anggi menceritakan peran 70 persen SDM pada film ini adalah pencapaian. “Aku pengennya bukan hanya syuting aja, tapi ada pertukaran ilmu pengetahuan juga,” katanya.

Anggi dan tim juga membangun rumah sendiri yang menyerupai rumah adat Papua agar tidak mengganggu kehidupan masyarakat asli. Pendekatan yang dilakukan juga kompleks dan panjang melalui proses kekeluargaan karena memang melibatkan masyarakat sana. “Biasanya kalau properti kan langsung nge-set ya, ini perlu waktu sekitar 2-3 minggu,” ucapnya.

Ia juga melakukan musyawarah dengan masyarakat setempat sebanyak 2x untuk berdiskusi agar semuanya baik-baik saja. Menurut Anggi, untuk meyakinkan hutan adalah bagian dari Papua dalam film ini, hal tersebut adalah cara yang tepat untuk meyakinkan masyarakat asli.

Poster film Teman Tegar: Maira Whisper from Papua. Foto: Instagram.

Audisi Menyanyi

Untuk menentukan tokoh utama, audisi diadakan dan diikuti oleh anak-anak setempat. Karakter perempuan dipilih menjadi tokoh utama karena menurut Anggi dan produser, yang menjadi korban krisis iklim dan paling terdampak adalah perempuan. “Kita membicarakan krisis iklim dengan ruang sederhana, salah satunya melalui anak-anak dalam cerita film,” kata Anggi.

Elizabeth Sisauta, pemeran Maira juga mengatakan awalnya ia hanya diminta mamanya untuk mengikuti audisi dan ia pun mencobanya. “ Audisi nya itu diminta nyanyi, tapi aku malu-malu, terus enggak nyangka malah terpilih jadi pemeran utama,” papar Eliz, panggilannnya. 

Ia menceritakan bahwa dirinya memang tomboi dan pemberani jadi untuk memerankan Maira itu sudah gampang baginya. Ia juga menambahkan bahwa hutan sesungguhnya di daerahnya memang sangat kaya bahkan seperti orang tua yang semuanya bergantung kepada hutan. “Walaupun cerita film hanya aku yang bisa baca tapi dari kampung kami (Lobo) aslinya banyak yang bisa baca,” pungkasnya.

TSABITA SIRLY KAMALIYA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Parenting |