Harga Cabai Melonjak Setelah Lebaran, Asosiasi Petani: Pasar Belum Normal

20 hours ago 4

TEMPO.CO, Jakarta - Harga cabai rawit merah dan cabai merah keriting masih melonjak di sejumlah daerah hingga hari keempat Lebaran 2025. Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengungkap kenaikan harga itu dipengaruhi oleh sistem pasar tradisional yang belum bekerja seperti semula karena libur panjang. Ia memastikan kenaikan harga cabai tidak disebabkan oleh minimnya pasokan dari petani.

"Bukan karena stoknya sedikit tapi aktivitas pasar belum kembali normal," kata Hamid saat dihubungi Tempo pada Kamis, 3 April 2025. Dalam rapat koordinasi hari besar keagamaan nasional bersama Badan Pangan Nasional hari ini, Hamid pun menyebutkan alasan yang sama.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ia berujar telah memprediksi kenaikan harga cabai baik mendekati maupun sesudah lebaran. Namun, ia pun mengaku tak menyangka harga cabai merah keriting bisa melonjak hingga Rp 90 ribu per kilogram dari yang normalnya Rp 35 ribu setiap kg. "Itu karena jumlah kebutuhan yang meningkat tapi yang jual memang sedikit, " katanya.

Ia memprediksi harga cabai akan mulai melandai di hari kedua atau ketiga Idul Fitri. Adapun soal fluktuasi harga cabai saat Lebaran disebut Hamid sebagai gejala pasar yang wajar. Dalam minggu kedua hingga ketiga bulan April, Hamid memproyeksikan harga komoditas cabai akan terus menurun karena petani akan mulai memasuki musim panen. Ia berharap agar harga cabai tak anjlok saat itu supaya para petani tidak sampai merugi.

Berdasarkan data Panel Harga Bapanas pada Kamis, harga rata-rata nasional cabai rawit merah menyentuh Rp 88.843 per kilogram. Angka itu melampaui harga acuan penjualan (HAP) sebanyak 55 persen cabai rawit merah yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 40.000 hingga Rp 57.000 per kilogram.

Komoditas cabai lain yang juga terpantau masih mahal yakni cabai merah keriting yang secara nasional harganya mencapai Rp 64.341 per kg. Harga itu naik 16,98 persen dari HAP sebesar Rp 37.000 sampai Rp 55.000 setiap kg. 

Berdasarkan amatan Tempo, harga cabai rawit merah di pasar tradisional dijual hingga Rp 140 ribu per kilogram di hari ketiga Lebaran atau Rabu, 2 April 2025. Harga itu telah turun dari yang semula Rp 180 ribu per kg pada Selasa. Menurut pedagang, lonjakan harga cabai itu dipengaruhi oleh kondisi pasar yang masih dalam peralihan pasca Lebaran.

"Pegawainya libur, tenaga kerjanya enggak ada pada pulang kampung ," kata Ahmad Rojak'i saat ditemui di kiosnya di Pasar Bintang Mas, Jakarta Barat, pada Rabu. Menurut Ahmad, para distributor cabai di daerah-daerah masih menikmati libur Lebaran sehingga pengiriman masih terhambat. 

Akibatnya, stok cabai rawit merah masih minim dari Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Menurut dia, harga cabai rawit tersebut tidak normal. Sebab sebelum Ramadan, ia sempat menjual cabai rawit merah Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per kilogram. Namun, hingga H-2 Idul Fitri 1446 Hijriah harga cabai rawit merah stagnan di harga Rp 180 ribu per kilogram. 

"Stok penghabisan, dikirim lagi setelah lebaran," kata laki-laki asal Tegal, Jawa Tengah itu. Kenaikan harga itu juga berlaku untuk komoditas cabai merah keriting yang dibanderol hingga Rp 120 ribu per kilogram pada Rabu ini. Kemarin, ia menjual lebih mahal Rp 30 ribu. 

Di seberang kios laki-laki berumur 38 tahun itu, penjual lain menduga mahalnya harga komoditas cabai disebabkan masih sedikit yang membuka lapak di hari libur Lebaran. "Cabai rawit merah Rp 120 ribu per kilogram, masih mahal karna dari sana mahal," ujar Ahmad Udin yang membeli cabai dari Pasar Induk Kramat Jati. Kendati mahal, harga itu telah turun Rp 5 ribu dibanding kemarin. 

Udin juga berujar harga cabai rawit merah yang meroket itu tak wajar. Sebab, ia biasanya dapat menjual cabai rawit merah sekitar Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram sebelum Ramadan. Selain itu, ia juga menaikkan harga cabai merah keriting yang sebelum Ramadan dipatok Rp 50 ribu per kilogram. "Cabai merah keriting saya jual Rp 100 ribu per, kemarin Rp 120 ribu per kg," kata laki-laki umur 38 tahun asal Solo, Jawa Tengah itu. 

Read Entire Article
Parenting |